La La Land, Klise yang Berbahaya

”LA La Land” membuka awal 2017 sebagai primadona dan menarik perhatian para penikmat film maupun mereka yang menyukai musik. Film musikal yang memborong piala Golden Globes dan kini, 14 monine Oscar ini digarap orang yang sama dalam Whiplash (2015) dengan genre musik yang sama, Jazz. 

Film ini mempertemukan kembali Ryan Gosling dan Emma Stone sebagai love-interest setelah ”Crazy, Stupid, Love” dan ”Gangster Squad”. Film yang lagi-lagi memberi tahu kita untuk bermimpi setinggi-tingginya dan sebodoh-bodohnya di tengah kota besar yang gemerlap dan menjanjikan. Bukan, bukan New York. It’s Los Angeles (LA). LA LA LAND.

Di tengah sibuknya industri hiburan di kota Los Angeles, hiduplah Mia (Emma Stone) seorang barista yang bercita-cita menjadi aktris. Ia kerap kali mencoba casting untuk berbagai peran namun selalu gagal. Di sisi lain, Sebastian (Ryan Gosling) seorang pianis yang mendedikasikan hidupnya untuk mencintai musik Jazz murni. 

Hal itu membuat ia bermimpi memiliki klub Jazz sendiri. Untuk memenuhi impiannya itu, ia rela “ngamen” dari kafe ke kafe hingga bergabung sebagai pianis di band milik teman lamanya, Keith (John Legend). Mia yang penuh semangat dan Sebastian yang teguh akan idealismenya dalam mencapai mimpinya, dipertemukan dalam satu kesempatan yang membuat mereka semakin sering bertemu dan tumbuh rasa cinta. Sama-sama memperjuangkan apa yang mereka inginkan di tengah LA yang memberi harapan pada mereka yang ingin berhasil dalam ranah show business.

Bisa dibilang, hadirnya ”La La Land” bagaikan harimau di kandang rusa. Nyentrik, juga berbahaya. Di tengah ramainya film-film blockbuster bergenre aksi hingga fiksi ilmiah yang melibatkan efek visual mumpuni yang tak masuk akal, Damien Chazelle – sang sutradara – memberanikan diri untuk menjagokan film musikal bergenre romantis dengan premis yang klise untuk bersaing dengan film-film lainnya. 

Kita pasti nggak asing lagi, kan, sama cerita pria dan wanita yang ketemu nggak sengaja, lalu benci jadi cinta? Atau cerita tentang mengejar impian meskipun berkali-kali gagal? Setidaknya itu yang membuat film ini secara cerita, biasa. Sepanjang film, kita akan banyak berspekulasi tentang bagaimana kejelasan hubungan Mia dan Sebs hingga akhir film.

Tim departemen musik pimpinan Justin Hurwitz menjadikan musik sebagai perhatian utama penonton yang turut membuat mereka larut dalam emosi yang dirasakan pemain. Seperti lagu “Audition (The Fools Who Dream)” yang menggambarkan perjuangan si bodoh yang tidak kapok mengejar cita-cita. 

Juga lagu andalan, ”City of Stars” yang semakin membawa penonton mendalami romansa antara Mia dan Sebs. Musik jazz dan film-film musikal era 50-an yang menjadi referensi Hurwtitz dkk. mungkin akan sulit dipahami oleh penonton, terutama mereka para millenials. Sebagai dalang dari romansa dan drama di sepanjang cerita, Emma Stone dan Ryan Gosling tampil saling mengisi, tidak ambil porsi berlebihan. Stone bukan lagi cewek SMA nyentrik di ”Easy A” (2010) atau kekasih manusia laba-laba nan jenius di ”The Amazing Spider-Man” (2012 dan 2014) melainkan sang gadis independen yang effortlessly elegant bernama Mia Dolan, masih dengan sedikit ceplas-ceplosnya yang khas. 

Lalu Ryan Gosling datang dengan permainan piano yang mengejutkan dan tarian serta kemampuan bernyanyinya yang patut diapresiasi, tetap dengan karakter charming, neat, and loving.

Dengan segala kelebihannya, ”La La Land” wajar mendapatkan pujian tapi jika bicara fakta, ”La La Land” merupakan sajian biasa yang dibuat istimewa sehingga menjadi kompetitor berbahaya bagi film-film lain, terutama mereka yang bersaing untuk mendapatkan penghargaan sekelas Oscar dan Golden Globe. 

”La La Land” akan menjadi benar-benar biasa jika tidak ada bantuan dari departemen musik, akting pemain, serta pengambilan gambar yang diusahakan sangat keras sehingga menghasilkan suatu kata sanjungan dari mulut para penonton. 

Saran, jangan memaksakan diri untuk mengerti apa yang coba disampaikan oleh Chazelle tentang kelanjutan hubungan dua tokoh utama. Jangan pula memaksakan diri untuk memahami jazz murni atau bagaimana bisa Mia dan Sebs melayang di ruang angkasa sebuah planetarium. Tapi, silakan saja jika sehabis menonton kita langsung menuju ke mesin pencari dan mengetikkan kata “Soundtrack La La Land”, atau “Emma Stone Yellow Dress on La La Land”. Selamat mencoba.***

Tulisan karya Setianita Tasya. Tulisan lainnya bisa dibaca di setianitasya.wordpress.com. Tulisan di blog Anda juga bisa ditampilkan di pikiran-rakyat.com dengan cara mengrimkan tautan tulisan Anda ke surel social@pikiran-rakyat.com dengan subject: BLOG.