Hari Bumi 2017, Ridwan Kamil Akan Audit Pohon di Bandung

Ridwan Kamil/HUMAS PEMKOT BANDUNG
WALI Kota Bandung bertemu dengan pegiat lingkungan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) di Kantor DPKLTS, Kota Bandung, Jumat 21 April 2017.*

BANDUNG, (PR).- Memperingati Hari Bumi 2017 atau Celebrating Earth Day 2017, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bertemu dengan pegiat lingkungan di DPKLTS, Jumat 21 April 2017. Mereka membahas tentang kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Kota Bandung serta kota-kota lainnya di Jawa Barat tengah mengalami perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Dalam sepekan, telah terjadi beberapa kali hujan dengan intensitas sangat deras. Peristiwa terakhir terjadi hujan yang diiringi jatuhnya butiran es, Rabu 19 April 2017 siang.

Perubahan cuaca ini umum terjadi saat peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Dalam istilah bahasa Sunda, fenomena yang terjadi saat ini disebut fenomena dangdangrat. Hari Bumi 2017 menjadi momen untuk memperbaiki kondisi ingkungan hidup.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, sesaat setelah berdiskusi dengan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), menuturkan bahwa fenomena ini perlu diwaspadai oleh warga. Dalam sebulan ini, warga diminta untuk mengantisipasi. "Pada musim pancaroba ini matahari tegak lurus di atas kepala kita, dan sering tiba-tiba mendung,” ujar Ridwan di Kantor DPKLTS.\

Ridwan Kamil menerangkan, turunnya hujan es itu disebabkan oleh perubahan cuaca. Uap air menguap ke atas saat mata hari tengah terik bertemu dengan awan mendung. Perubahan ekstrem dari cerah ke mendung itu terjadi dalam waktu yang singkat.

Hal tersebut sejalan dengan penjelasan yang dilansir Badan Meteorologi dan Geofisika. Berdasarkan analisis BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), hujan deras dan butiran es yang turun berasal dari awan kumulonimbus. Awan tersebut merupakan gumpalan vertikal menjulang tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya.

Hujan deras yang turun itu disertai dengan turunnya suhu yang mencapai 24 derajat celcius dan kelembapan hingga 83 persen. Hal ini membuat terjadinya hamparan es yang menyerupai salju. Hamparan es ini tentunya berbeda dengan salju umumnya yang biasa terjadi di belahan dunia dengan empat musim.

Audit pohon

Di samping mengantisipasi cuaca yang ekstrem, pemerintah kota bersama dengan DPKLTS juga akan melakukan audit terhadap pohon-pohon di Kota Bandung. Hal tersebut bertujuan untuk memonitor pohon agar kondisinya tetap terawat. Dan jika terjadi cuaca yang ekstrem lagi, pohon-pohon itu tidak akan mengalami gangguan yang membahayakan warga.

Selama ini, pemerintah kota melalui Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, Pertanahan, dan Pertamanan (DPKP3) juga selalu melakukan monitoring terhadap pohon-pohon di Kota Bandung. Diharapkan dengan adanya bantuan dari tim ahli di DPKLTS akan lebih mengoptimalkan proses monitoring tersebut.

"Karena kan orang awam mah melihat makin hijau makin bagus, padahal belum tentu, sehingga perlu dipangkas. Tapi gimana caranya kita minta bantuan dari DPKLTS," katanya.***

Baca Juga

Mekanisme Antikythera, Komputer Tertua di Dunia

JIKA Anda mengira bahwa komputer baru ditemukan pada abad ke-20 mungkin saatnya untuk dipikirkan kembali. Jauh sebelum itu, sekitar 150 tahun sebelum masehi, komputer tertua di dunia sudah diciptakan.

Benarkah Sukarno tak Terlalu Suka Lukisan Affandi?

BANDUNG, (PR).- Lukisan-lukisan Affandi telah menghiasi Istana Kepresidenan Republik Indonesia di antara ribuan koleksi lukisan terbaik di negeri ini. Tahun lalu, 28 lukisan terbaik dari maestro Indonesia, dua di antaranya karya Affandi, d