Populasi LGBT Capai Ratusan, Pemkot Cimahi Akui Kecolongan

Ilustrasi/REUTERS
Bendera Pelangi lambang kaum LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transeksual).*

CIMAHI, (PR).- Wali Kota Cimahi Ajay M. Priatna, mengaku kecolongan dengan adanya populasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Cimahi yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Apalagi, mereka kerap memilih lokasi umum untuk tempat pertemuan hingga transaksional, yang dikhawatirkan dapat menyebarkan perilaku tersebut dan mengarah pada efek negatif bagi generasi muda Kota Cimahi.

"Jelas kaget ya, apalagi lihat data terakhir yang tercatat 705 orang pelaku LGBT, bahkan bisa lebih. Tentu kami kecolongan. Makanya saya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian membahas hal ini, perlu ada pengawasan menyeluruh terkait keberadaan mereka," ujarnya di Kantor Pemerintahan Kota Cimahi Jalan Raden Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Jumat 12 Oktober 2018. 

Menurutnya, LGBT bukan semata urusan hak azasi seseorang dalam konteks seksual. Lebih dari itu, keberadaan kaum LGBT bertolak belakang dengan visinya sebagai kepala daerah di Kota Cimahi yang  agamis, maju, dan berbudaya.

"Agamis, maju, dan berbudaya yang saya usung jelas sangat tidak sejalan. Mereka melanggar norma agama, norma budaya Indonesia yang sangat ketimuran, pemikirannya tidak bakal maju," ujarnya.
Dia mengaku siap menjembatani para kaum LGBT agar bisa kembali pada kodratnya.

"Kalau ada, kami siap menyediakan konselor. Kita akan coba arahkan mereka ke jalur yang benar dan seharusnya. Pasti sulit, dari cara melacak keberadaan dan mengembalikan mereka ke kodratnya," tuturnya.

Pihaknya juga meminta tim siber kepolisian dibantu pemerintah daerah, untuk melacak aktivitas komunitas LGBT di dunia maya, yang menjadi tempat transaksional para kaum gay. "Nah ini yang jadi pekerjaan rumah kita semua. Melacak aktivitas mereka di dunia maya. Keterbukaan informasi justru jadi bumerang, karena dimanfaatlan untuk hal yang tidak-tidak. Transaksi seks di dunia maya oleh kaum gay tentu bisa dijerat pasal pidana, tapi itu jadi ranahnya kepolisian, kami minta bantuannya," bebernya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Cimahi, KH. Allan Nur Ridwan menyatakan mengecam segala tindakan berbau penyimpangan seksual lantaran tidak sesuai dengan kaidah agama. "Bukan tidak memikirkan hak azasi seseorang, hanya saja LGBT itu sudah tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, agama jelas melarang," ungkapnya.

Menurutnya, segala bentuk penyimpangan dalam hal seksual mendapat perhatian agar bisa diredam.  "Kita mesti waspada, perubahan orientasi seksual tidak terjadi secara mendadak. Ada yang mempengaruhinya, dan tentu itu bukan hal yang baik, tidak sesuai kodrat," ujarnya.

Pihaknya akan berkoordinasu dengan pemerintah dan pihak kepolisian untuk memantau aktivitas komunitas LGBT di Cimahi. "Tentu bisa saja dilaporkan ke pihak kepolisian, karena mereka melanggar banyak aturan, norma agama, norma sosial. Kami tentu sangat keberatan dengan keberadaan mereka," tegasnya.

Sebelumnya, pomunitas pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) turut eksis di Kota Cimahi.  Populasinya diperkirakan mencapai ratusan orang dengan rentang usia pelajar kisaran 15 tahun hingga usia dewasa.

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Cimahi melansir, para LGBT di Kota Cimahi tersebut kerap melakukan komunikasi transaksional melalui media sosial atau langsung bertatap muka, salah satunya di lokasi Alun-alun Kota Cimahi.

"Ada juga dari pelajar, meski tidak banyak. Untuk populasi 15 tahun sampai 24 tahun itu persentasenya sekitar 30 persen," ujar Pengurus KPA Kota Cimahi, Kin Fathuddin, Kamis 11 Oktober 2018. 

Berdasarkan data tahun 2017, pelaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) di Kota Cimahi mencapai hingga 705 orang. "Mereka itu termasuk yang biasa melakukan seks dengan waria juga," ungkap Kin.
Dikatakannya, kemudahan dalam mengakses berbagai jenis media sosial (medsos) dimanfaatkan oleh para LGBT untuk berinteraksi, bahkan dijadikan media untuk menjajakan layanan seksual dengan latar belakang kebutuhan ekonomi.

“Melalui media tersebut kelompok LGBT sekedar menunjukkan eksistensi keberadaan mereka, mencoba mencari pasangan kencan atau menjajakan diri. Pola transaksinya ya lewat medsos juga. Lewat cara pergaulan tersebut, bisa saja menular soal perilaku hingga penyakit kelamin  bahkan HIV-AIDS, tapi kembali lagi ke personalnya masing-masing," tuturnya.

Menghangat

Belakangan ini, isu LGBT tengah menjadi perbincangan hangat. Sempat beredar agenda Kontes Gay Nusantara yang bakal digelar di Bali dan penggerebekan pesta gay di Jakarta. Pihaknya tidak mengetahui adanya perwakilan kelompok gay di Kota Cimahi yang terbang ke Bali.  untuk mengikuti Kontes Gay Nusantara.

"Biasanya mereka bergerak secara diam-diam. Kita tidak tahu apakah ada atau tidak yang kesana," bebernya.

Dari segi kesehatan, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Cimahi dr. Romi Abdurrahman menjelaskan, penularan Virus HIV/Aids di Kota Cimahi didominasi oleh pergaulan seksual sesama jenis.

Menurutnya, kasus penggerebekan pesta gay di Jakarta dan kontes gay nusantara menjadi salah satu indikasinya. Hal tersebut lantaran mereka memiliki kecenderungan kerap berganti pasangan dan tak aman ketika berhubungan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penderita HIV-Aids pada tahun 2005 sampai 2016 dengan faktor risiko hubungan seksual sebanyak 307 kasus. Sedangkan untuk 2017, mulai dari Januari sampai April, telah terkonfirmasi 313 kasus HIV/Aids akibat hubungan seks.

"Sekitar 10 tahun yang lalu, kasus HIV/Aids tertinggi disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang bergantian. Untuk sekarang bergeser menjadi hubungan seks sebagai penyebab tertinggi," ungkap Romi.

Secara terinci, kasus penularan HIV/Aids dari ibu ke anak sebanyak 18 kasus atau sebesar 6 persen, penularan akibat perilaku transeksual sebesar 60 persen, dan yang melalui jarum suntik sebesar 34 persen.

"Untuk penderita laki-laki sebesar 67 persen dan perempuan 27 persen serta waria 6 persen. Peningkatan kasus penularan kasus HIV/Aids di Kota Cimahi hampir seluruhnya lewat hubungan seksual," paparnya.

Penularan virus HIV bukan karena masalah orientasi seksual seseorang, namun menitikberatkan pada perilaku orang tersebut dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

Di Indonesia angka heteroseksual yang terkena virus HIV lebih tinggi ketimbang mereka yang ada dalam kategori LGBT. Namun demikian, di Kota Cimahi dan Bandung Raya, tren penularan virus HIV justru lebih banyak melalui LGBT, khususnya pada kategori gay dan waria atau LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).

"Ironisnya, banyak mereka yang LGBT khususnya gay dan waria, yang terkena HIV/Aids. Sehingga dulu ada singkatan AIDS itu 'Akibat Intim Dengan Sesama', karena pada awalnya menyebar di kalangan gay," tandasnya.***

Baca Juga

Populasi LGBT di Cimahi Mencapai Ratusan Orang

CIMAHI, (PR).- Komunitas pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) turut eksis di Kota Cimahi. Populasinya diperkirakan mencapai ratusan orang dengan rentang usia pelajar kisaran 15 tahun hingga usia dewasa.

Pemkot Cimahi, 14 Pejabat Siap-Siap untuk Rotasi

CIMAHI, (PR).- Pemerintah Kota Cimahi menyiapkan rotasi 14 pejabat eselon II atau Jabatan Tinggi Pratama (JTP). Rotasi melibatkan izin dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).