Pergantian Tahun Saka Sunda, Sederhana Penuh Makna

Kampung Adat Cirendeu/RIRIN NF/PR

TERIK mentari yang menyengat terbalut alunan kecapi suling mengiringi lagu kawih sunda ditengah riungan warga adat di Bale Saresehan Kampung Adat Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Selasa 11 September 2018. Doa-doa dipanjatkan merasuk ke sanubari atas pemberian Sang Maha Pencipta selama setahun dan mengucap harapan untuk kehidupan mendatang.

Peringatan tutup taun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda itu terasa sederhana namun sarat makna. Kaum lelaki mengenakan pakaian pangsi warna hitam lengkap dengan kain iket di kepala, sementara kaum perempuan mengenakan kebaya atau pakaian warna putih. Gunungan sesajian, berupa hasil pertanian, buah-buahan dan nasi singkong,  minuman, penganan lainnya, tersaji di tengah bale.

Prosesi adat dibuka dengan mendengarkan wejangan dari sesepuh Kampung Cireundeu, Abah Emen Sunarya dan para sesepuh adat lain. Segala doa dipanjatkan kepada bumi tempat hidup dan Sang Pemberi Kehidupan, agar seluruh masyarakat diberi kesehatan dan keselamatan, diberi berkah melimpah, termasuk hubungan harmonis dengan alam baik binatang maupun tumbuhan.

Warga adat lalu berbaris mendekati sesepuh sambil bersimpuh. Derai air mata kerap tak terbendung mengingat kesalahan yang dilakukan kepada sesama manusia, saling memaafkan satu sama lain untuk menatap kehidupan lebih baik.

Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama sajian utama Kampung Adat Cireundeu yakni rasi singkong. Sebagian dari mereka melakukan ziarah ke makan leluhur. Abah Widi, Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, mengungkapkan, peringatan tutup taun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda tersebut karena masyarakat memiliki tujuan untuk menjaga dan melestarikan tradisi adat Sunda.

"Warga adat harus terus menjalankan tradisi yang diwariskan leluhur karena yang namanya adat istiadat termasuk tradasi kasundaan di Jawa Barat harus tetap dijaga," ujarnya.
Banyak doa yang dipanjatkan dalam tradisi tersebut. "Kegiatan ini sebagai bentuk syukur masyarakat kepada Sang Maha Pencipta karena telah dilimpahkan rezeki lewat hasil pertanian masyarakat sepanjang tahun. Mugia akur rukun repeh rapih jeung sasama hirup," ucapnya.

Prosesi sungkeman, lanjut Abah Widi, sebagai tanda penghormatan terhadap orang yang dianggap lebih tua. "Mereka minta maaf kepada yang lebih tua dan orang yang dianggap dituakan juga pasti memaafkan karena dalam acara sakral seperti ini berbeda seperti mereka bertemu sehari hari," katanya.

Beragam sesajian yang terhampar juga memiliki makna tersendiri. "Bunga yang terdapat pada sesajian menjadi simbol pewangi agar masyarakat dan Kampung Adat Cireundeu bisa harum. Dalam hal ini masyarakatnya diharapkan bisa mengharumkan nama bangsa khususnya Jawa Barat," ungkapnya.

Modernisasi

Selain itu, pada tahun saka sunda ini masyarakat diharapkan bisa saling mengingatkan soal tradisi tersebut. Untuk itu warga adat diwajibkan mengikuti acara tersebut. "Sejak adanya Kampung Adat Cireundeu acara ini hingga sekarang, setiap tahun terus digelar karena kampung adat termasuk tatar sunda di Jawa Barat, berarti budayanya wajib untuk dijaga," katanya.

Ditengah modernisasi kehidupan termasuk datangnya gelombang komersialisasi kawasan Cireundeu dengan kemunculan perumahan, Kampung Adat Cireundeu tetap teguh menjaga tradisi warisan leluhur. Generasi penerus diajak sedini mungkin mengenal dan dilibatkan dalam acara adat.

"Prinsip kami, Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman. Anak-anak tetap mengenyam pendidikan, tidak ada yang putus sekolah bahkan sudah ada yang lulusan universitas. Keberadaan gawai juga yak terhindarkan, teknologi, dan sebagainya. Kita bisa manfaatkan hal-hal tersebut justru untuk meningkatkan kecintaan kita kepada tradisi leluhur. Jadi, bagaimana warga adat bisa mensikapi modernisasi dengan bijaksana tanpa meninggalkan tradisi sebagai identitas kami," jelasnya.

Harapannya, lanjut Abah Widi, Kampung Adat Cireundeu bukan hanya tontotan tapi bisa menjadi tuntutan. Pemerintah Kota Cimahi dan Pemprov Jabar perlu berperan dalam hal pelestarian budaya sunda di tatar Parahyangan ini.

"Pemerintah hendaknya bisa memberi manfaat dengan mensosialisasikan dan melestarikan tradisi dan budaya sunda lebih meluas ke daerah lain di Cimahi dan Jawa Barat. Padahal wilayah luas tapi kenapa hanya Cireundeu yang mempertahankan tradisi sampai perilaku sebagai urang sunda di Cimahi, mestinya daerah lain juga bisa supaya Sunda tetap berjaya," tandasnya.***

You voted 'terinspirasi'.

Baca Juga