Oday Kodariyah, Raih Kalpataru karena Penyakit yang Sulit Disembuhkan

Kalpataru/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
ODAY Kodariyah (54) bersama suami, Djadjat Sudradjat (68), menunjukkan penghargaan Kalpataru 2018 yang diterimanya beberapa waktu lalu, di kediamannya, Kampung Manggu, Desa Cukang Genteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Kamis, 6 September 2018 lalu.*

DITEMUI di kediamannya di Kampung Manggu, Desa Cukang Genteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Kamis, 6 September 2018 lalu, Oday Kodariyah (54) tampak sangat sehat dan bugar. Orang yang baru kenal pasti tak pernah menyangka, 25 tahun silam, perempuan pejuang lingkungan itu pernah sakit keras dan hampir tak bisa diobati oleh ilmu kedokteran modern.

Ketika itu, Oday masih terbilang muda, kira-kira baru setengah dari usianya saat ini. Berbagai upaya yang dilakukan sang suami, Djadjat Sudradjat (68), untuk menyembuhkan Oday tak jua menunjukkan hasil positif.

Djadjat sempat pergi ke berbagai tempat guna mencari obat untuk istrinya. Hal itu lantaran obat-obatan dari dokter tak pernah mempan.

”Tiga bulan istri saya terba­ring sakit. Ketika diberi obat dari dokter malah muntah. Akhirnya, saya terpikir untuk mencoba obat kampung,” katanya.

Racikan obat berbahan herbal dibuat oleh Djadjat berdasarkan resep dari orangtua dan leluhurnya. Tak dinyana, hasilnya langsung terlihat signifikan. Oday kembali memiliki nafsu makan dan kondisinya mulai membaik.

Sejak itulah, Djadjat kemudian termotivasi untuk terus belajar soal pengobatan herbal ke berbagai daerah selama beberapa pekan. Namun, ia sempat kaget saat pulang ke rumah karena tak melihat Oday di kamar.

”Saya sempat panik dan berpikir macam-macam. Namun, alhamdulillah, saya terkejut karena melihat istri saya di kamar mandi dengan kondisi yang makin sehat,” tutur Djadjat.

Hal itu pun membuat Djadjat tak ragu untuk kembali meneruskan pengobatan herbal sampai Oday sembuh dan bisa berjalan kembali, dua bulan kemudian. Bersama sang suami tercinta yang menyembuhkan dirinya, Oday kemudian ikut memperdalam berbagai literasi dan rujukan tentang obat herbal.

Kebun tanaman obat

Perjuangan Oday dan Djadjat ternyata berguna untuk orang lain. Sampai tahun 2000-an, Oday dan Djadjat sudah membantu kesembuhan banyak warga sekitar dan warga dari luar daerah yang mencari solusi pengobatan alternatif.

Sejak itu, Oday dan Djadjat memutuskan untuk menggeluti pengobatan herbal secara profesional dan membuka kantor di rumah mereka. Di Kebun Tanaman Obat (KTO), Oday dan Djadjat pun mulai menanam sendiri berbagai jenis tanaman obat di lahan sendiri seluas 4 hektare.

Kepercayaan banyak orang yang sudah mereka bantu kesembuhannya akhirnya membuat Oday dan Djadjat mendapatkan sertifikat resmi sebagai ”herbalis”. Luas KTO Sari Alam kini berkembang hingga menjadi 21,5 hektare dengan tak kurang dari 900 jenis tanaman obat.

Menurut Oday, Indonesia merupakan negara kedua, setelah Brasil, yang memiliki keragaman tanaman obat terbesar di dunia. Oleh karena itu, ia pun mengajak semua pihak untuk menjaga dan melestarikan kekayaan itu untuk kesehatan masyarakat.

Tujuan mulia itu ternyata berbuah manis. Akhir Agustus 2018 lalu, Oday menjadi salah seorang penerima penghargaan Kalpataru 2018 kategori perintis dari Kementerian Lingkungan Hidup. Tahun ini, Oday merupakan satu-satunya perempuan yang mendapat penghargaan tersebut bersama enam tokoh lain dan tiga kelompok penggerak lingkungan dari daerah lain.

Namun, dari pengalaman hidupnya, semua itu dilakukan oleh Oday bukan untuk tujuan komersial. ”Saya hanya ingin melestarikan, mempertahankan, dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia,” katanya.

Oday bertekad terus merintis berbagai langkah terobosan pengobatan herbal hingga akhir hayat. Keinginan untuk terus melestarikan obat herbal kini sudah terwariskan kepada anak bungsunya, Delvi Tri Apriantini yang kini sudah bergelar sarjana farmasi dan apoteker.***

Baca Juga

12 Hari Hilang, SR Ditemukan Tewas Dibunuh Mantan Kekasih

SOREANG, (PR).- Kepolisian Resor Bandung membekuk R (16), tersangka pembunuhan terhadap mantan kekasihnya sendiri, SR (16) di kawasan perkebunan Rancabolang, Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu.

"Urban Farming" Bisa Manfaatkan Sampah Organik

SALAH satu persoalan sampah di Kabupaten Bandung saat ini adalah maraknya pembuangan sampah liar. Seiring pertambahan jum­lah penduduk, volume sampah yang diproduksi masyarakat pun terus meningkat.

Tim Futsal Kabupaten Bandung Siap Tempur di Porda

SOREANG, (PR).- Tim futsal Kabupaten Bandung tak menetapkan target muluk-muluk dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat XIII 2018 di Kabupaten Bogor. Target hanya ditetapkan bertahap mulai dari lolos ke fase gugur.