Pertama Kalinya, Warga Pembuang Sampah Sembarangan Diseret ke Meja Hijau

Membuang Sampah/ANTARA
Warga membuang sampah rumah tangga ke area pesisir pantai Kampung Jawa, Lhokseumawe, Aceh, Sabtu, 2 Juni 2018. Minimnya kesadaran warga pesisir dalam membuang sampah berdampak buruk pada pencemaran laut terutama ekosistem laut seperti rusaknya terumbu karang dan ikan.*

SOREANG, (PR).- Untuk pertama kalinya, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bandung menyeret pelaku pembuang sampah sembarangan ke meja hijau. Sedikitnya 23 warga yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan itu menjalani sidang tindak pidana ringan (tipiring) yang digelar di Kantor Satpol PP Kabupaten Bandung, Rabu, 6 September 2018.

Sidang tersebut dipimpin hakim tunggal Heru Dinarto dari Pengadilan Negeri Bale Bandung.

Wakil Kepala Satpol PP Kabupaten Bandung Agus Maulana mengatakan, warga pembuang sampah sembarangan tersebut terciduk petugas Satpol PP saat membuang sampah rumah tangganya di Jalan Lingkar Sadu-Ciwidey pada Selasa, 5 September 2018 malam.

Tindakan tegas pemerintah ini dilakukan untuk memberikan efek jera kepada perilaku masyarakat yang dianggap telah mencemari lingkungan. Selain itu, tindakan pembuangan sampah sembarangan ini melanggar Peraturan Daerah Nomor 15 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah dengan ancaman kurungan penjara maksimal 6 bulan dan denda maksimal Rp 50 juta.

"Para pelaku pembuang sampah sembarangan ini menjalani sidang tipiring, tertangkap tangan sedang membuang sampah sembarangan di sekitar Jalan Lingkar Sadu-Ciwidey. Ada yang membuang sampah rumah tangganya di bahu jalan, bahkan ada yang membuang sampah ke aliran Sungai Sadu yang merupakan anak Sungai Ciwidey yang bermuara ke Sungai Citarum," ungkap Agus di Soreang.

Masih dikatakan Agus, sebagian besar warga ini membuang sampahnya saat malam hari hingga dini hari. Periode waktu itu dipilih warga karena dianggap sepi dan tidak diketahui.

Untuk itu, lanjut Agus, pihaknya mengintensifkan patrolinya tidak pada siang hari, melainkan juga pada malam hari. Untuk mereduksi pembuangan sampah sembarangan ini, lanjut Agus, pihaknya pun akan melakukan hal serupa ke semua wilayah di Kabupaten Bandung, terutama di daerah yang berdekatan dengan aliran sungai.

Tidak ada TPS

Disinggung mengenai jumlah sampah yang dibuang warga itu, Agus menjelaskan, hal itu bervariasi. Ada warga yang membuang sampahnya beberapa kantong plastik hingga dalam kemasan karung.

Pihakya pun mengharapkan dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung membangun tempat pembuangan sampah permanen di titik strategis agar masyarakat pun tidak membuang sampahnya sembarangan.

Seorang warga yang tertangkap tangan membuang sampahnya, Ai (48) warga Kampung Panyirapan Desa Sadu Kecamatan Soreang mengatakan, dirinya mengaku kapok membuang sampah sembarangan. Dikatakan Ai, dirinya nekat membuang sampah ke aliran sungai karena tidak adanya lokasi pembuangan sampah. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, majelis hakim mengganjar Ai dengan denda uang.

"Saya kapok membuang sampah sembarangan. Karena enggak ada tempat pembuangan sampah, makanya saya membuang (sampah) ke aliran sungai. Biasanya sampah dari rumah saya itu saya bakar. Ya sangat perlu sekali ada tempat pembuangan sampah, soalnya di sekitar rumah saya belum ada (tempat pembuangan sampah sementara)," tutur dia.

PSK

Selain mengamankan pelaku pembuangan sampah sembarangan, Satpol PP Kabupaten Bandung pun menjaring 8 orang pekerja seks komersial (PSK) yang kedapatan sedang menunggu lelaki hidung belang di daerah Cangkuang. Bahkan, dalam operasi penyakit masyarakat itu, petugas pun mengamankan 1 orang lelaki hidung belang dan 1 orang pengedar minuman beralkohol ilegal.

"Operasi penyakit masyarakat ini untuk mewujudkan ketertiban dan kenyamanan lingkungan sesuai peraturan daerah. Selain itu, upaya penegakan peraturan daerah ini pun untuk mewujudkan landasan Kabupaten Bandung yang berreligius," ungkap Agus.

Berdasarkan pantauan di lapangan, di sela-sela sidang tipiring ini ada 1 PSK yang menangis histeris karena hendak berhadapan dengan hakim. Meskipun demikian, PSK itu pun tetap diwajibkan menjalani persidangan.

Bahkan, majelis hakim pun menemukan PSK yang tertangkap untuk kedua kalinya berinisial IS (40). Majelis hakim pun menjatuhkan denda Rp 250 ribu kepada IS karena dianggap tidak jera telah melanggar peraturan daerah.  Pada sidang sebelumnya, IS diganjar membayar denda Rp 100 ribu karena pelanggarannya itu.

"Kamu sudah dua kali ini tertangkap. Apa tidak kapok? Sidang sebelumnya kamu diganjar Rp 100 ribu, sekarang saya jatuhkan denda Rp 250 ribu. Kamu tahu kan kalau tindakan kamu ini melanggar aturan dan norma?" ucap hakim dalam persidangan itu.

Saat hendak dimintai keterangannya, IS menolak untuk berkomentar. Namun, seorang PSK lainnya berinisial YL (30) alias Dince mengatakan, dirinya mengaku terpaksa menjadi PSK karena himpitan ekonomi.

"Saya sudah cerai dengan suami saya, belum punya anak. Saya terpaksa (menjadi PSK) untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari karena saya hanya lulusan SMP," ungkap dia seraya menambahkan dirinya diganjar denda Rp 250 ribu oleh majelis hakim dalam sidang tersebut.***

Baca Juga

Tradisi Nuras Cai, Merawat Mata Air untuk Kehidupan

ADAT istiadat atau tradisi, tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Meski pada zaman modern sekalipun, sebuah tradisi akan tetap dijaga dan dipelihara, terutama oleh masyarakat adat.