Bulan Imunisasi Anak Sekolah 2018, Masih Ada Penolakan karena Anggapan Haram

Bulan Imunisasi SD/RIRIN NF/PR

CIMAHI, (PR).- Mengantisipasi penyebaran berbagai penyakit sekaligus meningkatkan kesehatan  pada anak-anak, Dinas Kesehatan  Kota Cimahi menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Namun, masih ada penolakan vaksin karena dianggap haram.

Diharapkan masyarakat mendukung pelaksanaan imunisasi di sekolah tersebut untuk menekan kasus penyakit menyerang anak-anak.

Sekretaris Dinkes Kota Cimahi, Fitriani Manan mengakui, selama proses pemberian vaksin campak pada BIAS, sempat mendapat penolakan. Tapi, hal tersebut bisa diatasi dengan pemberian pemahaman kepada masyarakat. 

"Kalau penolakan ada saja. Dengan adanya penolakan itu tak lantas membuat mundur untuk mengkampanyekan imunisasi vaksin campak. Kami membentuk tim yang mendatangi sekolah untuk memberikan pemahaman tentang manfaat vaksin serta meluruskan informasi yang beredar. Kita datang sosialsiasi, kita pendekatan lagi ke sekolah, bahkan ada sekolah yang orangtua siswanya meminta dilakukan sosialisasi imunisasi," ujarnya.

Dia menerangkan vaksin yang ada di Indonesia, termasuk vaksin campak memang belum memiliki sertifikat halal. Tapi belum berarti itu haram dan palsu. Terlebih lagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menerbitkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi bahwa untuk kebutuhan mendesak penggunaan vaksin mubah.

Tambahan lagi, vaksin campak itu dibuat dengan pembiakan pada telur ayam. 

"Sedangkan telur ayam kita makan sehari hari, tidak ada yang haram di dalamnya. Semua vaksin itu belum ada sertifikatnya tapi bukan berarti haram," ucapnya.

Terakhir, Dinkes Kota Cimahi meminta jika ada warga yang membutuhkan penjelasan tentang vaksin, ia bersedia untuk datang dan menjelaskan perihal keabsahan vaksin campak dan sebagainya.

BIAS rutin dilaksanakan

Dia mengatakan, program BIAS rutin dilaksanakan setiap tahun di bulan Agustus dengan sasaran siswa di Sekolah Dasar (SD)

"Ini adalah imunisasi tambahan bagi anak SD. BIAS campak bulan Agustus hanya kelas I saja," ujarnya ditemui di Kompleks Pemkot CimahI Jalan Raden Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Selasa 28 Agustus 2018.

Kasus penyakit campak yang mayoritas menjangkiti anak di bawah umur dan balita masih tinggi di Kota Cimahi. Targetnya dalam BIAS 2018 sedikitnya 9.500 anak kelas I SD bisa diberikan vaksin campak. Saat ini, petugas yang berjumlah 3-4 orang dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) se-Kota Cimahi terus bergerak mendatangi sekitar 150 SD se-Kota Cimahi.

"Di lapangan masih pelaksanaan. Petugasnya, satu dokter 1 satu perawat  satu bidan. Minimal 3-4 orang keliling satu hari di satu sekolah," ujarnya.

Dengan jumlah SD di Kota Cimahi terhitung banyak, lanjut Fitriani, pelaksanaan imunisasi campak dalam program BIAS akan berlangsung hingga September mendatang. Hingga akhir September nanti, pihaknya menargetkan 95% anak, dari total sasaran 9.500 anak bisa diberikan vaksin.

"Untuk BIAS campak sampai September. Di Kelurahan Cigugur Tengah jumlah SD-nya banyak. Jadi tidak mungkin dilakukan hanya di bulan Agustus, berlanjut hingga September," tuturnya.

Imunisasi vaksin campak ini sangat penting untuk menambah kekebalan tubuh anak dari serangan virus-virus berbahaya. Dinas Kesehatan Kota Cimahi menegaskan, imunisasi vaksin campak yang diberikan terhadap anak tidak mengandung bahan berbahaya. Penegasan itu untuk menjawab pro-kontra masyarakat terkait vaksin terutama soal  sertifikat halal. 

Fitriani ahun 1983 anak sekolah merupakan salah satu sasaran program imunisasi untuk mencegah penyakit difteri dan tetanus. Pada tahun 1998, mulai dilaksanakan BIAS, imunisasi disesuaikan  dengan jadwal pemberian 5  dosis TT pada Wanita Usia Subur (WUS), yaitu imunisasi dasar DPT dianggap setara TT  2 dosis, pada siswa  SD  kelas I hanya diberikan 1 kali DT, pada siswa kelas II dan III, diberikan TT masing-masing  1 dosis. 

Dengan demikian diharapkan  setelah lulus SD para siswa telah mendapat imunisasi TT 5 dosis.  Pemberian Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar. Sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularan penyakit. Di samping Imunisasi rutin perlu juga diberikan Imunisasi ulangan (Booster) pada anak umur 6 -7 tahun.***

Baca Juga

Bawaslu Cimahi Temukan 1.098 Pemilih Ganda

CIMAHI, (PR).- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Cimahi menemukan 1.098 pemilih ganda dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Data tersebut harus segera diverifikasi ulang agar bisa direduksi pada DPT.