Mandiri Lewat Tradisi Perelek di Kampung KB Bandung Barat

Perelek/HENDRO SUSILO HUSODO/PR
KEPALA Desa Sukajaya Asep Cahya Wijaya menunjukkan perelek beras yang berada di pintu masuk rumah warga, yang dijadijan Bale Sawala Kampung Keluarga Berencana, di Kampung Pamecelan, RT 4 RW 6, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 24 Agustus 2018.

SUDAH dua tahun terakhir ini, potongan bambu terpasang di pintu-pintu rumah di Kampung Pamecelan, RW 6, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Berisikan beras dan terkadang tersisipi uang receh, keberadaan potongan bambu itu sekaligus menandai tradisi perelek yang dihidupkan di desa tersebut.

"Setiap hari masyarakat menyimpan beras sesendok di perelek itu. Bukan cuma beras, ada juga warga yang suka memasukan uang. Nah, seminggu sekali, beras yang terkumpul di perelek itu diambil," kata Kepala Desa Sukajaya Asep Cahya Wijaya di Bale Sawala Kampung Keluarga Berencana.

Dalam sebulan, dia menyebutkan, rata-rata terkumpul sekitar 150 kilogram beras dari sekitar 200 rumah yang terdapat di Kampung Pamecelan. Beras yang terkumpul itu kemudian dijual kepada masyarakat yang membutuhkannya, dengan harga jual setengah dari harga pasaran beras.

"Uang hasil penjualannya itu untuk membiayai berbagai kegiatan, termasuk kegiatan-kegiatan di Kampung KB. Sebagian lagi dimanfaatkan untuk bantuan sosial kemasyarakatan. Beras perelek itu pun kami bagikan kepada warga yang jompo, sebanyak tiga liter beras per minggu," katanya. 

Tanpa menyebutkan data karena tidak hafal, Asep menyimpulkan, tradisi perelek beras di Kampung Pamecelan berhasil menurunkan tingkat keluarga prasejahtera. Rencana kerja pada program Kampung KB, yang bertujuan mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, juga dapat terlaksana dengan baik. 

Dengan alasan tersebut, dia berencana menerapkan tradisi perelek di kampung lainnya di Sukajaya. Pasalnya, dengan jumlah penduduk sekitar 13.800 jiwa, yang mayoritas bekerja sebagai peternak, Sukajaya termasuk salah satu desa dengan keluarga prasejahtera terbanyak di Bandung Barat.

"Kenapa Kampung KB dibentuk di RW 6, karena di sini tingkat kemiskinannya cukup tinggi. Selain itu, di RW 6 ini tingkat kepesertaan KB juga sangat kurang. Jadi, dengan adanya Kampung KB ini, sekarang peserta KB di sini meningkat dan kesejahteraan masyarakat juga lebih baik," tuturnya. 

Kampung KB

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Informasi KB pada Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Kabupaten Bandung Barat, Efi Saefiyani mengatakan, sejak Kampung KB dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 16 Januari 2016, pertumbuhannya di Bandung Barat terbilang pesat.

Pada 2016 ketika di suatu kabupaten diamanatkan untuk membentuk satu Kampung KB, Efi menyatakan, Pemkab Bandung Barat berinisiatif membentuk satu Kampung KB di satu kecamatan. Dengan demikian, ada 16 Kampung KB di Bandung Barat pada 2016. Menurut dia, Kampung KB di Sukajaya termasuk yang terbaik di Bandung Barat.

"Saat ini Kampung KB sudah terbentuk di 119 desa, sementara di Bandung Barat ada 165 desa. Nah, mulai 2018 ini kami meningkatkan perhatian untuk Kampung KB. Jadi, tahun ini ada bantuan hibah untuk 17 Kampung KB, masing-masing Rp 50 juta. Itu sudah disalurkan. Untuk 2019, kami berencana memberi bantuan hibah untuk 26 Kampug KB," katanya.

Dia menyebutkan, bantuan itu dimaksudkan untuk kebutuhan di Bale Sawala, pembuatan identitas Kampung KB, pembinaan masyarakat, pelatihan pengurus, atau untuk administrasi program Kampung KB. Khusus untuk program kependudukan, KB dan pembangunan keluarga (KKBPK), dia menambahkan, pemerintah desa juga dapat memberikan dukungan anggaran.

"Untuk program KKBPK, dari 2015, kepala desa sudah bisa menganggarkannya dari alokasi dana desa atau dana desa. Hampir 80 persen desa di Bandung Barat juga menganggarkan untuk KKBPK ini. Untuk tahun 2019, di musyawarah rencana pembangunan, sebanyak 58 desa sudah menganggarkannya, Rp 50 juta khusus untuk Kampung KB. Untuk KKBPK beda lagi," katanya. 

Efi menjelaskan, Kampung KB bertugas melaksanakan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. "Jadi, program KB itu bukan hanya soal alat kontrasepsi," ujarnya. 

Dia menyatakan, tingkat KB di Bandung Barat juga mengalami perbaikan. Saat ini, kata dia, Dinas PPKBP3A Kabupaten Bandung Barat lebih fokus pada peningkatan kepesertaan KB secara kualitas, karena secara kuantitas dinilai relatif sudab mencukupi.

"Keikutsertaan KB sudah 77 persen. Untuk kualitas, kami ingin meningkatkan MJP, yaitu metode (KB) jangka panjang. Kami sekarang sudah 24 persen. Itu data 2018. Itu kan sudah ada peningkatan, tapi yang kami lihat secara keseluruhan, karena program KB juga menyangkut ketahanan keluarga dan pemberdayaan ekonomi keluarga," ucapnya.***

You voted 'sedih'.

Baca Juga