Kota Cimahi Kritis Air Tanah, Bantuan Sumur Dangkal Tak Bisa Sembarangan

Krisis Air Bersih/DEDEN IMAN/PR
WARGA mengisi jerigen milik mereka saat mengantre untuk mendapatkan air bersih di Gang Sirnagalih, Kelurahan Cibabat, Kota Cimahi, Rabu, 15 Agustus 2018. Program bantuan sumur dangkal dan artesis dari Pemerintah Kota Cimahi sudah tidak bisa dilakukan karena sumber air tanah di Kota Cimahi sudah memasuki zona merah.*

CIMAHI, (PR).- Penanganan kebutuhan air bersih di musim kemarau dilakukan dengan menggenjot pengelolaan air permukaan. Pasalnya, program bantuan sumur dangkal maupun artesis dari Pemkot Cimahi tak bisa lagi dilakukan karena kondisi air tanah di Kota Cimahi sudah kritis.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, M. Nur Kuswandana, mengatakan hal itu, Rabu 15 Agustus 2018. "Cimahi sudah masuk zona merah terkait air dalam, sehingga pembuatan sumur dalam bantuan Pemkot Cimahi harus ada izin dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jabar," ujarnya.

Kemarau berdampak pada menurunnya debit air di sumur masyarakat dan berpotensi menyebabkan masyarakat kekurangan air bersih. Penurunan muka air tanah di Kota Cimahi salah satunya dikarenakan penggunaan atau eksploitasi air tanah yang tidak terkendali, seperti untuk pembangunan industri pada beberapa daerah dengan kondisi air tanah yang nisbi baik.

"Dampaknya jumlah air tanah akan berkurang, dulu kalau kita bikin sumur lima meter ada airnya, sekarang minimal harus 20 meter.  Dampak lain permukaan tanah bisa amblas. Surutnya air tanah di Kota Cimahi terjadi karena beberapa faktor. Memang pengaruhnya besar terutama  penggunaan air oleh industri," ucapnya.

Program bantuan artesis dan sumur dangkal (jetpam) digelar Pemkot Cimahi periode 2014-2015, saat ini tinggal tersisa 72 titik tersebar di Kota Cimahi.

"Sumur artesis dan sumur dangkal pada umumnya masih bisa beroperasi. Namun ada yang kurang optimal karena perawatan minim dan jumlah warga yang dilayani terus bertambah. Tinggal 72 sumur tersisa, itu juga ada beberapa titik yang tidak ada airnya," ungkapnya.

Titik artesis dan sumur dangkal dikelola oleh Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air (KP2A) yang berasal dari unsur masyarakat setempat. Masyarakat yang memanfaatkan pasokan air bersih dari sumur artesis sebanyak 7.336 sambungan rumah dan swadaya masyarakat berupa sumur dangkal kurang lebih 49.676 sambungan rumah.

"Kondisi air tanah mulai mengering, maka air dari artesis dan sumur dangkal tersebut harus dijaga untuk kebutuhan darurat," katanya.

Untuk pemenuhan air minum mengupayakan pemanfaatan air permukaan secara optimal. Pemerintah menggenjot rencana pengelolaan air secara mandiri dengan mengubah Unit Pelayanan Teknis (UPT) Air Minum menjadi Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cimahi.

"Pembentukan PDAM dapat menambal layanan sisa warga yang belum terlayani air bersih," katanya.

Sumber air yang bakal dikelola dari beberapa sumber, diantaranya sumber air dari Leuwilayung Cimahi Utara dan aliran Sungai Cimahi.

"Sumber air baku lainnya belum ada. Sejumlah aliran sungai sudah tercemari limbah domestik, juga limbah industri. Jadi tidak dimungkinkan," katanya.

Rencananya, sumber air Leuwilayung dapat menyalurkan air sampai 50 liter perdetik. Debit tersebut setara 5.000 SR. "Saat ini sudah menyiapkan Detail Engineering Design (DED) dan tahapan pembebasan lahan untuk sistem pengolahan air di Leuwilayung," katanya.

Kerja sama

Selain itu, Pemkot Cimahi bekerja sama dengan Pemkab Bandung dalam pengelolaan sumber air bersih dari Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Gambung yang dikelola PDAM Tirta Raharja. Design awal aliran dari SPAM Gambung untuk ke Kota Cimahi dengan kapasitas 100 liter perdetik, atau sebanding dengan 10.000 SR.

Pemasangan infrastuktur akan dilaksanakan tahun 2018, kemudian pemasangan pipa dari Kabupaten Bandung ke Kota Cimahi dilaksanakan tahun 2019. Pemkot Cimahi perlu segera menyiapkan Jaringan Distribusi Utama (JDU) untuk menyambungkan suplai air dari SPAM Gambung. 

"Untuk sampai ke Leuwigajah masih 19 km jaraknya, Cimahi harus berjuang mempersiapkan JDU. Kami juga minta segera merealisasikan SPAM Gambung, sehingga Cimahi segera menyiapkan reservoir di Leuwigajah sebagai penampung air di musim kemarau," ujarnya.

Sumur dangkal dan sumur artesis menjadi antisipasi jangka menengah penanganan kebutuhan air bersih. "Pengelolaan air lewat UPT Air Minum ditambah dari PDAM lewat SPAM Gambung dapat menambah cakupan layanan air bersih ke masyarakat sehingga dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat," tuturnya.

Ketersediaan air bersih tergantung daya dukung lingkungan. Diharapkan masyarakat meningkatkan upaya penghijauan agar bisa mengikat air untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun. ***

Baca Juga