PT KAI Sesalkan Warga Masih Ngabuburit di Rel

Main di rel/DEDEN IMAN/PR
WARGA beraktivitas di jalur rel kereta api di sekitaran Jalan Sunda, Kota Bandung, Minggu 27 Mei 2018. Karena berbahaya, masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan di sepanjang lintasan rel kereta api sesuai dengan pasal 181 ayat (1) UU 23 tahun 2007 tentang Perekeretaapian. Dalam ayat (1) pasal tersebut menyatakan bahwa setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api; menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur kereta api, atau menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api.*

BANDUNG, (PR).- PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) II Bandung, Jawa Barat, tak jera untuk memperingatkan masyarakat agar tidak mengisi waktu jelang berbuka atau ngabuburit di sepanjang jalur perlintasan kereta api. Selain membahayakan keselamatan, hal tersebut sudah dilarang di dalam perundang-undangan.

Manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung Joni Martinus mengungkapkan, hingga saat ini sayangnya masih banyak warga yang beraktivitas di rel kerata api aktif. Tak hanya di rel dekat jalan raya atau keramaian, namun juga di rel dekat pemukiman.

"Tidak cuma ngabuburit, tapi banyak juga yang cuma duduk-duduk di rel setelah Sahur untuk menghabiskan waktu," ucap Joni, Rabu 13 Juni 2018.

Menurut dia, hingga kini aktivitas terlarang semacam itu paling banyak ditemui di sekitar Stasiun Kiaracondong, Stasiun Plered dan Stasiun Cicalengka.

"Sudah diperingatkan berkali-kali, tapi masih banyak yang melakukannya. Padahal itu sangat membahayakan mereka sendiri," katanya.

Joni mengatakan, jalur kereta api tidak bisa dimanfaatkan secara sembarangan karena menyangkut keselamatan perjalanan kereta api. Peruntukannya dimuat dalam UU 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Dia berharap, masyarakat lain juga turun membantu menjaga keselamatan perjalanan kereta api dan juga memberi pengertian atau teguran apabila ada masyarakat yang bermain atau melakukan kegiatan di jalur kereta api.

"Pelanggaran terhadap Pasal 181 ayat (1) berupa pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 15 juta sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 199 UU 23 tahun 2007,” tuturnya. ***

Baca Juga

Pahlawan-pahlawan di Rel Tanpa Palang Perkampungan Rancaekek

SEBAGIAN orang menganggap para penjaga pelintasan rel tanpa palang hanya memanfaatkan kesempatan untuk mengais uang. Namun, sebagian lagi menilai mereka adalah penyelamat yang seharusnya memperoleh fasilitas selayaknya.