Alamiahnya Sungai Citarum

Sedimentasi Sungai Citarum/ADE MAMAD/PR
Warga bercocok tanam di atas tanah hasil dari proses sedimentasi aliran sungai Citarum di kampung haur hapit desa Bojongsari kecamatan Bojong soang kabupaten Bandung. Kamis, 5 April 2018 lalu. Selain terdampak limbah, sungai Citarum juga menghadapi penyempitan lebaran aliran sungai akibat sedimentasi pada bantaran sungai yang kini banyak dipergunakan warga untuk bercocok tanam.*

KECUALI empat catatan lain yang bergerak antara catatan reprotatif dan selintas pendekatan budaya, catatan berikut ini dan terutama yang berlandas pada kerangka teoretis harus diakui bukanlah pacabakan (bidang kerja) penulis.

Namun, demi mengingat kembali bahwa umumnya sungai itu bersifat alamiah (natural river) meskipun kemudian karena perkembangan peradaban muncul campur tangan manusia untuk pengaturannya, di sana-sini kita akan menjumpai paparan teoretis dari para pakarnya.

Pakar geologi, T Bachtiar dan Dewi Syafriani, memaparkan bahwa setelah meletusnya Gunung Sunda terbentuklah Danau Bandung Purba dalam perkiraan antara 210-105.000 tahun yang lalu (TB dan DS, Bandung Purba, 2004: 201). Material letusan gunung tersebut menyumbat Sungai Citarum Purba sebelah barat di Cukangrahong dan Curug Jompong di timur. 

Sumbatan di Curug Jompong bedah atau bobol pada perkiraan 16.000 tahun yang lalu.

Uraian TB dan DS itu panjang, lengkap, dan terbagi atas sejumlah judul pembahasan; jalan terbaik untuk mengenal segalanya adalah dengan membaca buku mereka selengkapnya.

Sebatas keperluan catatan ini, adalah informasi bahwa sejak perkiraan 16.000 tahun yang lalu itulah ragam sungai terbentuk. Setelah Danau Bandung Purba mengering, titik terendah danau tersebut tak lain adalah sepanjang Citarum.

Selama itu pula proses alam yang kemudian bersambung dengan proses campur tangan manusia berlangsung.

Sungai-sungai yang terkategorikan alamiah membentuk diri berdasarkan hukum alam dan berlangsung hingga hari ini. Seperti yang bisa kita lihat pada gambar ”pola alamiah sungai”, terbitan yang sejatinya untuk pembelajaran siswa menengah dan dasar itu mengurai sistem kehidupan sungai yang secara umum bisa berlaku di mana pun di muka bumi ini.

Bahkan tentang bagaimana sungai meliuk dan berbelok, itu terbentuk atas sifat alam karena misalnya alur sungai itu bertemu dengan lembah, batuan keras, atau gunung.  Bersama pertumbuhan tersebut, sungai pun membentuk bagian-bagian dirinya secara lengkap, maka ada bagian yang ”ngaleuwi”, kadang membentur bebatuan besar hingga membentuk arus permukaan yang deras.

Sedangkan bagian bawah di balik bebatuan menjadi tempat berlindung ikan-ikan serta kehidupan air lainnya, dan sebagainya. 

Leuwi atau lubuk adalah bagian sungai yang menjorok ke arah bawah merupakan salah satu bagian terpenting dari alamiahnya sungai, kadang sangat dalam, dengan arus permukaan seperti tenang. Di sana biasanya unsur-unsur bawaan dari luar sungai ”diolah”, misalnya longsoran dari sepanjang badan sungai yang antara lain menjadi sedimen diendapkan di bagian dasar leuwi.

Bersama perjalanan waktu, sedimen di dasar leuwi itu ”diubah” menjadi berbagai hal yang antara lain menjadi bahan makanan ikan-ikan serta kehidupan lainnya. Itu pula yang membuat leuwi menjadi tempat tinggal serta pertumbuhan ikan-ikan yang paling nyaman.

Di beberapa daerah yang masih menjaga adat, keberadaan leuwi ini sangat dijaga sehingga muncullah istilah ”lubuk larangan” seperti yang penulis jumpai di sepanjang Sungai Bio, Kampar Kiri Hulu, Riau.

Mari kita bayangkan pula bahwa di leuwi-leuwi itu masih hidup sebangsa belut, ular, atau hewan lain yang punya sifat hidup di lubang tanah atau membuat lubang-lubang kehidupannya sendiri. Merekalah sejatinya yang membuat ”biopori” alamiah yang bahkan bisa jauh sekali di kedalaman hingga membentuk alur-alur air bawah tanah, menabung air dan unsur-unsur lainnya, dan kemudian memunculkan mata air lain di bagian yang lebih rendah.

Tidak berdiri sendiri

Kini, mari kita perhatikan gambar Sungai Citarum dan anak-anak sungainya serta sistem aliran Sungai Citarum Hulu dengan sub-DAS-nya. Gambar Citarum dan anak-anak sungainya bersumber pada data ”Kajian Pemodelan Spasial Banjir untuk Mendukung Kebijakan Sempadan Sungai dan Tata Ruang Wilayah” yang disusun bersama oleh Aninda Deviana, Iwan Kridasantausa, dan Yadi Suryadi, itu pun sebatas anak-anak sungai dari Cimahi hingga Citarik.

Sementara gambar ”Sistem Aliran Sungai Citarum Hulu dengan Sub-DAS-nya” bersumber pada data Pusair Jabar, 2003.

Di hadapan kedua gambar tersebut, catatan ini tetap untuk tidak terlalu masuk ke dalam kajian teoretis serta hal-hal teknis. Sebagai langkah awal pemahaman, cukuplah kiranya dengan pendekatan visual atau melihat alakadarnya dari yang tampak. 

Dengan cara itu pun kita bisa melihat kembali bahwa Citarum tidak berdiri sendiri melainkan terkait dan saling berangkai dengan anak-anak sungainya. Dua hal yang saling berseberangan tetapi tak terpisahkan, yaitu kala Citarum menjadi berkah bagi kehidupan dan sebaliknya kala berkirim bencana banjir misalnya.

Itu artinya bukan semata berasal dari satu-satunya tubuh Sungai Citarum melainkan penjumlahan dari kualitas sejak dari sumbernya di Cisanti serta anak-anak sungainya.

Gambar berikutnya yang diterbitkan Pusair Jabar, sesungguhnya berupa gambaran kawasan Citarum Hulu (bahkan lebih sempit lagi dan/atau tidak selengkapnya mencakup wilayah Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi), juga tidak termasuk Citarum Tengah (Kab. Bandung, Kab. Cianjur, Kab. Purwakarta), Citarum Hilir (Kab. Purwakarta dan Kab. Kara­wang).

Namun, dengan gambar itu saja bisa terlihat bahwa jaringan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum dan sub-DAS-nya itu demikian kompleks. Selintas, lagi-lagi sebatas pandangan visual, gambaran itu mirip aorta beserta jaringan urat atau pembuluh darah di dalam tubuh manusia, tak heran jika su­ngai di dalam bahasa Sanskerta disebut nadi.

Demikian sekadar gambaran bahwa Citarum tidaklah berdiri sendiri melainkan terangkai di dalam jejaring besar sungai-sungai lainnya. Sejumlah anak Sungai Citarum pun sejatinya masih terhubung ke sungai-sungai yang lebih kecil, parit, bahkan saluran-saluran air di rumah tinggal kita.

Air yang berjalan melalui sungai hingga bermuara di laut atau samudra, bahkan air yang berada di langit karena terjadinya evaporasi, itu berada di dalam satu siklus kehidupan yang tak terpisahkan.

Kita atau manusia adalah bagian terpenting dari keseluruhan mata rantai siklus air tersebut, sebab hanya manusialah yang diberi akal budi untuk memilih; apakah menjadi bagian dan mengelola air ini agar menjadi berkah dan kebaikan; atau sebaliknya melakukan pembiaran, haré-haré atau acuh tak acuh, bahkan merusak sistem alam hingga air pun berbalik menjadi bencana.

Segalanya bisa dimulai dengan yang termudah; tak buang sampah sembarangan dan hentikan buang sampah ke sungai. (Herry Dim, budayawan, pengurus Odesa-Indonesia)***

Baca Juga