Fenomena Anak Gugat Orang Tua ke Pengadilan, Bukti Lunturnya Moralitas

Ilustrasi/CANVA

MASIH ingatkah anda, terhadap kasus anak menggugat ibu kandungnya di Garut? Nenek Siti yang sudah tua renta digugat anaknya sebesar Rp 1,8 miliar. Gugatan dilayangkan ke Pengadilan Negeri Garut oleh anaknya.

Kasus yang sama dan masih hangat dipendengaran kita adalah kasus Nenek Cicih yang juga digugat empat orang anaknya yaitu Ai Sukawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi dan Ai Komariah. Mereka menggugat ibu kandungnya Cicih (78) ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung.

Cicih digugat anak-anaknya terkait persoalan warisan tanah. Mereka menggugat Cicih secara perdata senilai Rp 1,6 miliar. 

Ternyata di Pengadilan Negeri Bandung gugatan anak terhadap orang tua, tidak hanya pada nenek Cicih saja, tapi juga ada perkara lain yang juga tidak kalah menariknya, yaitu gugatan anak perempuan bernama Meymey (Oey Huei Beng) menggugat bapaknya Oey Tiauw Sioe yang sudah berumur 80 tahun lebih. 

Lebih mengkhawatirkan lagi, sang bapak yang digugat saat ini keadaannya tengah sakit keras kena serangan stroke. Oey Tiauw Sioe tidak bisa berjalan dan hanya terbaring di tempat tidur, bahkan untuk makan saja harus disuapi.

Gugatan terhadap Nenek Cicih disidangkan setiap hari Selasa, sedangkan Gugatan terhadap Oey Tiauw Sioe digelar tiap hari kamis di Pengadilan Negeri Bandung.

Pada Kamis pekan kemarin agenda sidang mediasi, namun di tingkat mediasi buntu hingga akhirnya sidang gugatan harus dilanjut. Materi yang digugat dalam perkara tersebut tidak lain masalah harta warisan. Anak perempuan tersebut menggugat harta warisan berupa dua puluh delapan bidang tanah.

“Klien kami sudah tak berdaya, kini hanya bisa terbaring ditempat tidur, makan saja harus disuapin dan saking parahnya, asupan makanan semuanya harus diblender. Dan kini harus mengahadapi gugatan di Pengadilan Negeri Bandung dari anak kandungnya sendiri,” ujar penasehat hukum tergugat, Wilson Tambunan saat dihubungi, Minggu, 25 Februari 2018.

Lunturnya budi pekerti

Menanggapi fenomena tersebut Psikiater Teddy Hidayat menyatakan bahwa kasus anak menggugat orang tua  tersebut sangat berhubungan dengan lunturnya budi pekerti dan moralitas. Dimana dahulu orang tua itu sangat dihormati dan menjadi pujaan, kini malah diperkarakan di pengadilan.

“Budi pekerti sekarang ini sudah luntur, bagiamana menghormati orang tua, sekarang malah gara -gara harta, anak malah menggugat orang tua ke pengadilan,” ujarnya.

Menurut Teddy, kalau pun orang tua melakukan satu kesalahan, seharusnya dimaafkan karena bagaimanapun dia itu yang melahirkan kita, membesarkan kita, mengurus hingga membesarkan kita. Kini setelah anaknya dewasa, seharusnya membahagiakan orang tua atau memberi kasih ke orang tua malah mempersoalkannya, lebih parahnya lagi persoalan itu dibawa ke pengadilan.

“Inilah moralitas sebagai anak terlihat jelas, sudah tidak ada lagi perasaan ikatan batin sebagai anak kepada orang tuanya,” katanya.

Lunturnya moralitas, menurut Teddy Hidayat akibat arus pertumbuhan teknologi informasi yang begitu dahsyat dan tidak diimbangi peningkatan moralitas. “Perbaikan moralitas berjalan lamban, sedangkan tenologi informasi begitu cepat. Inilah PR kita semua, bagaimana mengembalikan moralitas anak bangsa supaya kembali terjaga,” ujarnya.

Sementara itu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Gianti Gunawan menyayangkan terjadi peristiwa anak menggugat orang tua. Apalagi orang tuanya sudah berusia lanjut.

Pola asuh yang salah

Menurut dia, secara psikologis, diusia lanjut, individu mengalami banyak penurunan, baik dalam hal kesehatan, kekuatan, peran sosial dan penghasilan. Justru di usia inilah, orang tua sangat memerlukan dukungan sosial, terutama dari keluarga terdekatnya, yaitu anak, menantu dan cucu-cucunya.

“Bagi anak, masa ini merupakan masa yang tepat untuk membalas jasa orang tua. Karena anak sudah berada pada usia dewasa, dimana mereka sudah mandiri, memiliki pekerjaan, memiliki pasangan dan anak,” ujar Psikolog yang kini menempuh S3 ilmu psikologi di Unpad itu.

Secara psikolog, menurut Gianti, fenomena anak gugat orangtua itu bisa aja terjadi dan diantaranya bisa disebabkan beberapa faktor. Seperti pola asuh yang salah, anak terlalu dimanjakan, semua keinginannya dipenuhi (nyaah dulang- dalam bahasa sunda), akibatnya anak memiliki toleransi yang rendah dan tidak bisa menahan keinginannya.  “Selain itu, prilaku agresi/kekerasan yang dilihat dikehidupan kemudian ditiru,” ujarnya.

Kemudian menurut Gianti, bisa dipengaruhi lingkungan, seiring bertambahnya usia anak, dia akan bertemu banyak orang dan bisa jadi tidak selalu memberikan pengaruh yang positif. Baik dari teman maupun pasangan hidup. Sehingga ketika ada sedikit saja masalah dengan orang tua atau keluarga, ia akan lebih percaya orang lain yang dianggap ada dipihaknya, seperti pengaruh menantu.

Selanjutnya bisa dikarenakan gaya hidup hedonis saat ini seringkali membuat orang terlena dan membuat menghalalkan segala cara untuk dapat menikmatinya. “Komunikasi yang tidak berjalan dua arah secara memadai antara anak dan orang tua sehingga maksud antara kedua belah pihak tidak diterima secara objektif dan terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.

Tentu saja solusinya, menurut Gianti, salah satunya komunikasi, bagaimana ikatan antara anak dan orang tua tidak ada kata “mantan” atau “blood thicker than water”. Dengan begitu bila bersama sama duduk, berbicara dengan hati dan kepala dingin dikembalikan ke “singgasana” masing-masing sesuai perannya sebagai anak dan Orang Tua, masalah akan dapat terurai lebih jelas dari dua sudut pandang.

Solusi dicari bersama-sama dengan mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan orangtua. “Tentu saja tameng yang paling utama mendekatkan diri pada agama,” katanya.***

Baca Juga

116 Guru Al Zaytun Gugat Pemberhentian Sepihak di PHI Bandung

BANDUNG, (PR).- Sebanyak 116 guru Mahad Al-Zaytun Indramayu menggugat Yayasan Pesantren Indonesia (Mahad Al Zaytun) ke Pengadilan Hubungan Industrial Bandung. Mereka menggugat karena diberhentikan tanpa alasan yang jelas padahal mereka sudah mengabdi 17 tahun.

Mahasiswa Pengedar Ganja Dituntut Hukuman Mati

BANDUNG, (PR).- Muhammad Rival Hidayat (22) dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum Kejati Jabar Nurhidayat dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 17 April 2018.