Kasus Difteri di Cimahi Hanya Satu, Liawati Ternyata Negatif Difteri

Aceh KLB difteri/ANTARA FOTO
PERAWAT mengunakan berjalan usai melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus Difteri di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Jumat 8 Desember 2017. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menetapkan kasus virus Difteri merupakan kasus kejadian luar biasa, sehingga Kemenkes akan menjadwalkan imunisasi vaksin TD (tetanus-difteri) untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri di tiga provinsi diantaranya Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.*

CIMAHI, (PR).- Sempat dirujuk dan dinyatakan positif difteri, Liawati (42), warga Kelurahan Utama Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, kini dinyatakan bebas dari virus tersebut. Hasil tes secara komprehensif dan berulang menyatakan Liawati negatif terpapar virus difteri. Sehingga, kasus difteri di Cimahi hanya satu.

Sekretris Dinas Kesehatan Kota Cimahi Fitriani Manan menjelaskan, saat menjalani pemeriksaan awal beberapa waktu lalu di RSUD Cibabat, pasien tersebut positif terkena difteri. "Berdasarkan hasil pemeriksaan, ada bentuk virus batang berhelter. Tapi begitu di RSHS diperiksa ulang sampai 3 (tiga) kali, ternyata negatif," ujarnya, Selasa, 13 Februari 2018.

Dengan demikian, kasus positif difteri di Cimahi sejauh ini baru menimpa M. Dicki warga Kel. Cigugur Tengah Kecamatan Cimahi Tengah. Anak berusia 5 tahun itu meninggal beberapa waktu lalu akibat difteri.

Sejauh ini, kata Fitriani, warga Kota Cimahi yang terindikasi difteri dan telah dirujuk ke RSHS Bandung ada sekitar sembilan orang. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan detail, semuanya yang dirujuk dinyatakan negatif. "Yang positifnya cuma satu kasus, sisanya negatif," katanya.

Dikatakannya, sejak kasus meninggalnya Dicki, kewaspadaan masyarakat Kota Cimahi akan penyakit difteri meningkat. Pasalnya, semenjak kejadian itu, terlihat peningkatan kunjungan pemeriksaan kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan.

Waspada difteri

"Semenjak kasus Dicki itu memang lebih waspada lagi untuk warga sekitar. Dalam artian kalau nyeri menelan, segera memeriksakan diri, kontrol ulang sebelum sembuh," ujarnya.

Untuk pencegahannya, Fitriani mengimbau, khusus bagi bayi 0-11 bulan harus mendapatkan tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia dua, tiga dan empat bulan. Kemudian saat usia 18 bulan diberikan kembali satu dosis DPT-HB-Hib.

Bagi anak usia Sekolah Dasar (SD) kelas I, wajib mendapatkan satu dosis imunisasi. Kelas II dan V wajib mendapatkan imunisasi Td. Selain itu, pencegahan juga harus dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah dan lingkungan masing-masing. "Serta meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan dan minuman, makanan berimbang, bergizi asupannya," imbuhnya.

Pihaknya sudah melakukan kajian untuk pengajuan status Outbrake Response Immunization (ORI) ke Dinas Kesehatan Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan. Sehingga cakupan vaksinasi difteri bisa meluas ke masyarakat sasaran untuk menekan kemunculan kasus difteri lainnya.

"Jadi kajian dulu semua, bila detail lengkap kita ajukan ke Provinsi dan Kemenkes. Kalau ditetapkan daerah ORI, penanganan vaksinasi bakal bersifat lokal di wilayah terpapar saja. Untuk saat ini prioritas Kelurahan Cigugur Tengah," ungkapnya.

Pada program ORI, imunisasi difteri hanya menyasar anak usia 1-19 tahun, usia di atas itu dianjurkan untuk melakukan imunisasi secara mandiri.***

Baca Juga