Museum Gedung Sate, Tempat Belajar Sejarah Mirip Markas The Avengers

Museum Gedung Sate/ARIF HIDAYAH/PR

SAATNYA mendekatkan museum ­kepada anak muda. ­Indonesia kaya ragam budaya dan peristiwa bersejarah. Salah satu tempat untuk menelusurinya adalah museum.

Akan tetapi, museum yang kuno tak banyak memikat hati orang zaman sekarang yang sudah terlalu lekat dengan teknologi digital.

Adalah paradigma lama yang mendeskripsikan mus­eum hanya sebagai tempat pe­nyimpanan jejak peristiwa dan bukti peninggalan masa lampau. Pemikiran itu harus sudah segera di­tinggalkan. Museum sebaiknya tidak lagi dianggap sebagai gudang artefak belaka.

Desainer interior yang juga rehabilitator museum, Ade Garnandi menjelaskan, sekitar tahun 2009 dan 2010 muncul gerakan revita­li­sasi museum dari insiatif dua kementerian, pariwisata dan pendidikan.

Saat gerakan itu berjalan, di dunia ada konsep baru untuk museum yang diinisiasi oleh sejumlah profesor dari India.

Paradigma baru ini kemudian diadopsi oleh UNESCO untuk merevitalisasi banyak cagar budaya dunia. Konsep ini lantas disebut dengan museum inklusif, ketika mu­seum menjadi lebih dina­mis dan terbuka agar dapat mengiringi perkembangan zaman yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Aplikasi dari konsep inklusif museum ini antara lain mengga­bung­kan multimedia sistem informasi teknologi dalam mengenal­kan konten museum.

Museum inklusif akan memaksimalkan domain digital dan ruang kreatif untuk pengunjung. Harapannya, orang menjadi mudah mendapatkan informasi dengan teknologi canggih, juga me­ngantarkan perasaan menyenangkan.

Itu pula yang menjadi konsep dasar pembuatan Museum Gedung Sate. Bisa dika­takan, museum itu adalah yang pertama menerapkan konsep baru tersebut di ­Indonesia

Ade yang juga Ketua Tim Museum Gedung Sate menuturkan, sejak dua tahun lalu Pemerintah Provinsi Jawa Barat ingin memba­ngun museum yang memunculkan kisah keberadaan Gedung Sate.

Gabungan dari praktisi museum profesional bersama tim Biro Humas dan Protokol Setda Jawa Barat kemudian melakukan riset selama 1,5 tahun.

”Setelah dikerjakan dalam waktu 3,5 bulan, museum ini rampung dan diresmikan akhir tahun kemarin,” ujarnya ketika ditemui di Museum Gedung Sate, Rabu 31 Januari 2018 lalu.

Museum Gedung Sate terletak di bagian belakang Gedung Sate, tepatnya di basement sayap kanan gedung, tak jauh dari kantin, lapangan parkir, dan Bank BJB di area Kompleks Gedung Sate. Jika sudah di area belakang kompleks, tak sulit untuk menemukan museum itu.

Penanda lokasi diletakkan di sekitar museum dan cukup menarik pandang­an. Sebelum memasuki museum, pe­ngunjung akan melewati banyak tempat duduk ber­payung. Menurut Ade, fasilitas ini disiapkan jika pengunjung harus menunggu giliran masuk. Agar dapat nyaman dan leluasa me­nyusuri museum seluas 500 meter persegi ini, idealnya tak lebih dari 50 orang saja.

Konten dalam museum ini berisikan semua hal mengenai Ge­dung Sate mulai dari kisah mengapa ge­dung ini di­bangun, detail arsi­tektur indah gedung yang menggabungkan langgam barat dan timur, hingga bukti sejarah proses pem­buatannya.

Ditunjukkan pula detail-detail bangunan yang ada di Gedung Sate seperti kaca patri atau kaca prisma yang digunakan sebagai bantuan penerangan alami. Beberapa benda bersejarah yang ada di Gedung Sate se­perti telefon kuno, branwir, serta duplikat sirene hadir di museum ini.

Ada pula ”robekan” dinding yang bisa dijadikan tambahan informasi dari sisi teknik pembangunan gedung. Semua dinding Gedung Sate dibuat dari tumpukan batu gunung dari Gunung Manglayang.

”Ini yang menarik. Dari cetak biru Gedung Sate yang kami temu­kan, di setiap basement gedung di sayap kanan dan kiri terdapat satu ruangan cukup luas, sekitar 400 meter, yang tidak dapat ditemukan di gedung aslinya. Ternyata, setelah ’dilubangi’, diketahui jika ruangan tersebut kosong, hanya berisi tanah liat. Tebal din­dingnya antara 80 cm hingga 1 m. Kuat dugaan, ­ruang kosong ini berfungsi sebagai penyeimbang bangunan sehingga bisa tahan gempa,” kata Ade.

Memasuki area museum, pengunjung akan diarahkan untuk berkenalan dengan se­jarah panjang Kota Bandung dan juga peristiwa yang mengiringinya.

Bagian ­te­ngah museum berfungsi sebagai area ­utama yang memberikan informasi tentang Gedung Sate. Di area tersebut juga ter­dapat aneka konten digital seperti hologram dan interactive glass display mengenai Gedung Sate.

Segmen selanjutnya adalah ruang gimmick yang menyuguhkan konsep edutainment untuk pengunjung seperti ruang augmented reality hingga virtual reality.

Pengunjung juga dapat menonton film pendek berdurasi 10 menit mengenai Kota Bandung di area audio visual.

Gaya minimalis modern

Keberadaan wahana multimedia interaktif itu ditujukan untuk menyedot perhatian pengunjung, terutama anak muda.

”Memang belum sempurna sebagai museum inklusif. Misalnya, belum ada pe­nerapan teknologi QR Code atau IR Code. Namun, saya harap ke depannya lebih banyak lagi muncul museum-museum inklusif di Indonesia,” tuturnya.

Interior museum dibuat dengan gaya ­mi­nimalis modern. Konsep itu dipilih untuk menghadirkan semangat milenial di era tek­nologi digital meskipun pada museum yang merekam memori peristiwa masa ­lampau.

Selain itu, keunggulan gaya ini dinilai cocok untuk museum yang penuh dengan benda bersejarah. Konsep minimalis dinilai tidak menumpuk debu dan mudah ­dikontrol.

Garis-garis streamline yang sederhana jadi ciri khas lain. Hampir tak ada lekukan detail pada interiornya. Ada pun dinding leng­kung di sekitar area masuk bertujuan memudahkan arus pengunjung saat memasuki museum.

Meskipun dibuat dengan gaya modern dan simpel, Ade tak ingin museum menjadi jauh dengan manusia.

Oleh karena itu, ia dekatkan dengan sentuhan ornamen alam seperti kayu. Penggunaan jati parket pada lantai serta warna-warna bumi dianggap bisa mewakilinya.

Selesai bersenang-senang dengan informasi sejarah arsitektur Gedung Sate dan bangunan lain, pengunjung diarahkan ke pintu keluar di bagian belakang.

Mereka akan melewati ruang sketsa yang di din­ding kanan kiri lorong diisi oleh karya sketsa dari Bandung Sketchwalk.

Berbelok ke kiri, pengunjung akan me­nyusuri ruang kontemplasi berisikan informasi mengenai pembuatan museum Ge­dung Sate, termasuk di antaranya foto besar hasil pemindaian 3D Gedung Sate yang dilakukan sangat detail oleh Tim Konservasi Candi Borobudur.

”Jika Ge­dung Sate runtuh, kita bisa membangunnya kembali ­dengan persis sama berbekal data analisis pemindaian ini,” tutur Ade.

Pada ruang kontemplasi, napas yang ­ingin dibangun ketika seseorang melalui­nya adalah ketenangan dan suasana hening. Warna-warna seperti ungu tua atau krem digunakan pada kedua dinding di lorong ini.

Fasilitas lain dari museum ini selain toilet juga adanya perpustakaan kecil yang ber­isikan buku tentang arsitektur dan desain, juga gift shop yang menyatu dengan kafe kecil. Menurut Ade, kafe tersebut rencana­nya akan dijadikan museum kopi mini.

Hal itu wajar karena Jawa Barat memiliki banyak ragam kopi lokal yang tak kalah istimewanya. Akan tetapi, bagian kafe dan gift shop belum rampung dikerjakan.

Delapan multimedia pelengkap

Agar tak lekas bosan, pengunjung di Museum Gedung Sate akan disu­guhi fasilitas multimedia yang interaktif dan inovatif. Ada sepuluh teknologi multimedia yang bisa dicoba saat berada di area museum.

Di awal 1900, Pemerintah Hindia Belanda berencana memin­dah­­kan pusat peme­rintahan dari Batavia. Bandung dinilai sesuai dengan kebutuhan tersebut. Lalu dibuatlah cetak biru mengenai ­instansi ­pemerintahan di wilayah yang baru.

Gedung Sate awalnya ditujukan sebagai kantor departemen pekerjaan umum sehingga dibangun pertama kali bersamaan de­ngan kantor pusat pos dan telegram. Rencananya, ada dua belas gedung lain dalam kompleks pemerintahan serta satu rumah gubernur jenderal di bagian puncak.

Cetak biru yang dipajang di Museum Gedung Sate tersebut didapat dari pemindai­an dokumen asli dari Belanda. Di dalamnya diperlihatkan rancangan kompleks pemerintahan Hindia Belanda di Bandung.

Mulai dari Gedung Sate (di Jalan Diponegoro), membentang ke utara hingga area Dago (sekitar Jalan Tubagus Ismail). Setiap gedung pemerintahan dibangun melingkar dengan area terbuka di bagian tengahnya.

Sayangnya, kompleks pemerintahan ini urung dibangun karena krisis moneter di Kerajaan Belanda. Akhirnya, hanya dua gedung yang terbangun serta dua area ­terbuka (kini Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan).

Bagaimana jika seluruh kompleks peme­rintahan itu berhasil dibangun? Kita dapat melihatnya dari fasilitas virtual reality yang disediakan Museum Gedung Sate. Selain itu, ada teknologi multimedia pelengkap konten lain yang harus Anda coba jika ke sana.

Interactive glass display

Pernah menonton film ”Iron Man”? Digambarkan Tony Stark kerap mengerjakan proyeknya melalui layar kaca besar yang dapat disentuh dan interaktif.

Tek­nologi itu juga hadir di Museum Ge­dung Sate, berisikan konten-konten arsitektur Gedung Sate yang bisa Anda klik untuk mengetahui bentuk-bentuknya. Selain itu, Anda juga bisa menggerakkan gambar tersebut melalui sentuhan tangan.

Interactive 3D scale model

Jika Anda penasaran dengan ruangan-­ruangan di dalam Gedung Sate, wahana yang satu ini bisa menunjukkannya.

Sebuah maket Gedung Sate yang detail, bisa dibelah di bagian tengahnya. Dari sana terlihat penampang ruangan di dalam Gedung Sate.

Hologram


Teknologi ini dapat ditemukan dekat pintu masuk. Dari sebuah penampang berbentuk prisma, hologram Gedung Sate dari berbagai sisi bisa muncul di sini.

Wall video mapping

Saat hendak meninggalkan area utama museum, pengunjung akan melewati satu lorong menuju area gimmick. Salah satu din­dingnya dijadikan media untuk video mapping Gedung Sate.

Din­ding ini menjadi pelengkap untuk ruang auditorium di depannya. Ruangan yang berkapasitas 35 orang tersebut dapat digunakan untuk menonton film pendek tentang Gedung Sate.

Augmented reality

Apa rasanya berada dalam satu frame bersama pekerja zaman dulu dan mandor dari Belanda? Di ruangan ini, Anda bisa me­ra­sa­kannya.

Sebuah meja dan kursi dilengkapi dengan ornamen pendukung seperti karung serta benda-benda zaman dulu lainnya turut disediakan. Pada dinding yang berada di depan meja, terdapat layar interaksi yang menayangkan pengerjaan suatu bangunan.

Tayangan tersebut tampak nyata dengan ruangan yang Anda da­­tangi. Pencitraan Anda juga terlihat pada tayangan tersebut, seolah-olah mandor Belanda tengah bercakap-cakap dengan Anda.

Virtual reality

Saatnya naik balon udara! Ingat dengan rencana pemerintah Belanda membangun instansi pemerintahan tadi?

Dalam wahana ini, Anda bisa menyaksikan rupa instansi tersebut dari atas, seakan-akan Anda terbang bersama balon udara. Anda akan dilengkapi dengan kamera VR yang menyuguhkan tayangan 3D.

Apa yang Anda lihat dalam ka­mera VR tampak pada layar yang ­terletak di din­ding sebelah balon udara. Jadi, pe­ngunjung lain yang tak sedang naik balon udara bisa turut menik­mati apa yang Anda lihat.

Architerium

Ini adalah ruang­an yang membahas mengenai arsitektur. Tak hanya arsitektur Indonesia, 30 persennya menayangkan ­arsitektur ikonik dunia, dan 10 persennya memperlihatkan bangunan heri­tage di ­Indonesia.

Architerium berisikan tujuh ­layar yang diletak­kan melengkung 270 ­derajat dan berada pada ruangan yang gelap bertirai tebal agar pengunjung yang memasukinya fokus pada tayangan pada layar.

Interactive picture frame

Sebanyak tiga unit layar interaktif diletakkan di area utama Museum Gedung Sate. Layar tersebut berisikan informasi mengenai pemimpin Jawa Barat dari masa ke masa. Pengunjung dapat menyentuh se­tiap gambar kepala daerah dan mendapatkan informasi mengenai sosoknya.***

Baca Juga