Disabilitas Netra Mengolah Rasa dengan Melukis

Disabilitas Netra Melukis/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PESERTA saat mengikuti pelatihan melukis di Wyataguna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat, 9 Januari 2018. Kegiatan yang diikuti sebanyak 20 peserta tersebut sebagai bentuk aktualisasi diri kaum difabel melalui karya lukisan.*

SENI visual tak hanya milik mereka yang awas, mereka dengan keterbatasan penglihatan bahkan memiliki ketrampilan lebih baik dibanding mereka yang sempurna penglihatannya. 

Hal itu terlihat dari kegiatan yang digelar oleh komunitas Teman Tanpa Batas di Panti Sosian Bina Netra (PSBN) Wyataguna, di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat, 9 Februari 2018. Mereka mengajak 20 siswa PSBN Wyataguna yang low vision maupun total blind untuk belajar melukis di atas kanvas. Masing-masing peserta dibimbing oleh seorang relawan. 

Melalui relawan itu, peserta kebanyakan meminta tolong untuk memberikan cat warna yang pas untuk objek lukisannya. Dalam waktu kurang lebih 30 menit aneka lukisan pun tercipta. Mulai dari lukisan bunga, pemandangan hingga ada yang menyebutnya lukisan abstrak. 

Hasilnya, lukisan-lukisan hasil karya siswa PSBN Wyataguna saat itu dievaluasi oleh dua orang kurator asal Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. 

Gerry Bagus Karang, penggagas Teman Tanpa Batas mengatakan, ia percaya semua manusia diberikan kelebihan oleh Tuhan. Termasuk mereka yang dengan keterbatasan penglihatan. 

"Kami ingin mereka belajar. Bisa gali potensi seni mereka melalui lukisan. Kita juga ingin mengedukasi masyarakat. Lukisan bukan hanya seni visual tapi ada elemen yang lebih penting yaitu soal rasa. Saya percaya mereka lebih memiliki rasa dan bisa lebih terasa nilai seninya nanti," ujar dia di sela acara. 

Menurut dia, kegiatan tersebut memang kegiatan pertama tapi tidak menutup kemungkinan akan berkelanjutan terlebih jika ada peserta yang memiliki potensi seni lukis. Namun hal itu tergantung dengan hasil evaluasi mereka dan Wyataguna. "Kalau kami sih inginnya ini kegiatan jangka panjang," ujar dia. 

Dia menambahkan, kegiatan Teman Tanpa Batas tak hanya melibatkan mereka yang terbatas penglihatannya. Mereka menyentuh penyandang disabilitas lainnya seperti disabilitas wicara dan beberapa SLB di Bandung untuk berinteraksi dan mengajak mereka beraktualisasi diri melalui sebuah kegiatan yang bermanfaat. 

"Meski mereka memiliki keterbatasan, tapi indera lainnya dan fisik lainnya bisa digali potensinya," ujar dia. 

Gara-gara teteh

Suhendar, Humas PSBN Wyataguna mengatakan, mereka menyeleksi peserta terutama mereka yang benar-benar berminat dan menyukai seni lukis. Pasalnya saat itu hanya dibatasi untuk 20 peserta saja. Namun akhirnya mereka yang terlibat memang menyukai seni.  

"Menurut saya ini kegiatan pertama yang monumental. Menurut kacamata awam lukisan identik hanya untuk mereka yang bisa melihat tapi ini kami (disabilitas netra)  menuangkan perasaan lewat imajinasi ke suatu gambar. Diharapkan ini awal perjalanan, memberi edukasi di mana stigma tuna netra tidak  bisa apa-apa di bidang  visual ternyata ini membuktikan kita mampu. Soal bagus enggak itu relatif,"tutur dia. 

Sementara itu, Zaenal (26) salah seorang peserta yang saat itu melukis bunga-bunga ternyata sudah tidak asing lagi dengan media lukis. Dia yang mengalami kebutaan sejak duduk di bangku smp itu ternyata sudah biasa menggambar. Namun memang bukan di atas kanvas, melainkan di kertas A4. 

"Kalau melukis begini saya belum pernah. Baru sekarang," ucap dia. 

Ia mengatakan, ia masih memiliki sisa penglihatan namun kesulitan mengenal warna, sehingga masih butuh bantuan. Dan kala itu dia memilih melukis bunga, bukan karena hatinya sedang berbunga-bunga melainkan terinspirasi ketika melihat sang relawan yang berhijab. 

"Kenapa melukis bunga, ya enggak tahu juga padahal sedang tidak berbunga-bunga. Ini gara-gara lihat tetehnya," ujar dia yang sukses membuat relawan itu tersipu.***

Baca Juga

Pemberhentian Aceng Fikri Dinilai Ilegal

BANDUNG, (PR).- ‎DPD Hanura Jawa Barat meminta semua pemangku kepentingan mengabaikan pergerakan pihak-pihak yang mengatasnamakan DPD Hanura Jabar di bawah kepemimpinan Wisnu Purnomo.