Penyelesaian Taman Regol Dikebut, Bakal Jadi Pusat Rekreasi Bandung Selatan

Taman Regol/ADE BAYU INDRA/PR
PEKERJA menyelesaikan pembuatan Taman Regol, di Jalan Pasirjaya, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Sabtu, 13 Januari 2018. Pengerjaan proyek tersebut dikebut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil akan meresmikannya pada 7 Februari 2018.*

BANDUNG, (PR).- Melewati tahun anggaran 2017, pembangunan Taman Regol dikebut agar selesai akhir Januari. Penataan kawasan bantaran Sungai Cikapundung seluas 2 hektare di wilayah Pasirluyu itu akan dijadikan pusat rekreasi di Bandung bagian selatan.

“Taman Regol ini bisa dinikmati warga Kota Bandung, khususnya yang berada di kawasan selatan, Buahbatu, Mohammad Toha, hingga warga dari Kabupaten Bandung. Dengan hadirnya taman luas di wilayah selatan Bandung, mudah-mudahan bisa membagi keramaian wisata yang biasanya di pusat kota,” kata Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengendalian pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Tedi Setiadi, di Taman Regol, Bandung, Sabtu, 13 Januari 2018.

Taman Regol dibangun di bantaran Sungai Cikapundung. Dengan berdiri di hamparan lahan seluas 2 hektare, terdapat dua taman yang mengapit sungai, yakni di Jalan Pasirluyu Selatan, dan di area perumahan Jalan Suryalaya.

Sebelum dibangun, Jalan Pasirluyu Selatan merupakan jalan rawan begal. Malam hari kondisinya minim cahaya lampu dan ditambah padatnya pepohonan di sepanjang jalan. Terdapat kantor dan area UPT Pembibitan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung di kawasan itu.

Jalan itu biasa menjadi jalan penghubung antara Jalan Soekarno Hatta dengan Jalan Suryalaya, Buahbatu, atau Jalan Kembar, serta Mohammad Toha. Tumbuhan liar menutupi lahan luas hingga jembatan Suryalaya. Saat pematangan lahan untuk taman, kata Tedi, ditemukan banyak bangunan liar dan barang rongsokan.

Beralas marmer

Mulai Oktober 2017, kata Tedi, wilayah itu dibuka dan mulai ditata. Kantor UPT Pembibitan tetap dipertahankan. Pohon-pohon yang sebagian besar berumur tua juga ikut dijaga. Lahan pun disulap jadi taman beralaskan marmer, beton, dan panel kayu komposit. Area taman tergolong luas. Jarak dari tepi jalan hingga ke bibir sungai bisa berkisar 15 meter hingga 50 meter.

Badan jalan masih tersisa lebar 7 meter. Dengan kondisi itu, masih tersisa dua meter untuk parkir tepi jalan sepanjang 500 meter. Sepanjang taman itu juga disediakan jalur khusus sepeda selebar 1.5 meter. Sementara trotoar dilengkapi blok pengarah warga difabel, serta jalur landai akses ke dalam taman bagi pengguna kursi roda.

Trotoar yang ditempatkan antara jalur sepeda dan taman dibuat beragam, salah satunya dengan keramik bermacam kelir serupa trotoar plus pelataran Bandung Creative Hub di Jalan Laswi.

Di beberapa area ditempatkan pulau-pulau sebagai wadah tumbuhan dan bunga. Area luas dibuat berundak yang bisa difungsikan sebagai tempat duduk pengunjung. Ada pula bagian berundak yang dibuat luas untuk sejumlah kegiatan layaknya mini amfiteater.

Belum dilengkapi pagar

Terdapat satu kolam hias dan dua kolam cetek yang masing-masing berukuran sekitar 70 meter persegi untuk wahana air anak. Namun, proyek taman senilai Rp 20 miliar itu belum dilengkapi pagar untuk membatasi taman dengan sungai. Tedi mengatakan, pagar itu akan segera dipasang untuk keamanan pengunjung.

“Penataan sungai ini menjadi percontohan, bersama dengan hasil Sungai Cikapayang samping Balai Kota Bandung, penataan Cikapundung Promenade, dan Teras Cikapundung. Ini bukti jika bantaran sungai bisa dijadikan layak sebagai ruang publik,” ujarnya.***

Baca Juga