Pertegas Atmosfer Masa Kolonial, 26 Monumen Penanda Cagar Budaya Hadir di Bandung

Monumen penanda cagar budaya di Kota Bandung/PRFMNEWS

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Kota Bandung akan menambah monumen penanda kawasan kota lama Bandung tahun depan. Sejumlah bangunan di dalam wilayah yang akan ditentukan sebagai kawasan kota lama Bandung diatur agar tidak sembarangan memugar dan merusak inti bangunan cagar budaya.

“Kota yang baik itu mempreservasi (merawat) sejarah. Jangan, di daerah yang bersejarah, banyak bangunan-bangunan modern yang tidak nyambung,” ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Rabu 27 Desember 2017.

Pemerintah Kota Bandung tengah membangun enam monumen penanda kawasan kota lama Bandung berbentuk tugu dan gapura. Penanda wilayah itu akan menjadi titik awal menuju penataan delineasi kawasan cagar budaya yang tersebar di Kota Bandung.

Dalam praktiknya nanti, delineasi kawasan akan membatasi perombakan bangunan yang telah masuk kategori cagar budaya. Pelestarian bangunan-bangunan di kawasan khusus ini sekaligus untuk mengatur jenis pembangunan berdasarkan kaidah yang ditentukan panduan pengelolaan kawasan cagar budaya.

“Maka, kebijakan saya kan kalau ada proyek baru, hotel baru, besarnya harus art deco. Contohnya, Ibis di depan PRFM (Jalan Braga) dipaksa art deco, (hotel) Sarinah juga dipaksa art deco. Semua dipaksa mendekati gaya lama. Supaya orang paham, Anda memasuki wilayah bersejarah,” tuturnya.

Dengan monumen penanda itu, kata Ridwan Kamil, masyarakat yang melintasi kawasan tersebut akan diajak berganti suasana ke dalam atmosfer yang lebih kolonial dengan deretan bangunan warisan situs cagar budaya. 

Tahun depan, Pemerintah Kota Bandung akan menambah sekitar 20 monumen penanda kawasan kota lama Bandung. Ridwan mengatakan, monumen lain yang akan dibangun diletakkan di titik lahan kosong dan berada di batas yang ditentukan sebagai kawasan kota lama.

“Di mana ada titik-titik memungkinkan, kami bikin monumennya. Ada yang bentuknya portal seperti di Jalan Riau, di Dago, di Jalan Sudirman, ada juga yang monumen berbentuk lingkaran-lingkaran kecil (tugu),” ujarnya.

Anggota DPRD Kota Bandung Folmer Silalahi menilai pembangunan sejumlah gapura kota lama Bandung telah melanggar Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 921 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Perda Kota Bandung Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya. 

Perwal tersebut tidak mengatur pembangunan gapura sebagai penanda kawasan kota lama Bandung.

Dalam perwal itu, hanya diatur mengenai tata cara penggolongan dan penandaan kawasan cagar budaya berupa tugu, dan prasasti untuk penanda bangunan cagar budaya. Sementara Ridwan mengambil definisi monumen sebagai dasar pembangunan penanda kawasan kota lama. Objek sebagai penanda kawasan itu bisa berupa ragam bentuk.

“Yang disebut tugu itu kan artinya monumen. Monumen itu bentuknya bisa miring, bisa lurus, bisa portal, itu definisnya begitu, jadi tidak didetilkan seperti bagaimana. Intinya, ada benda arsitektur sebagai penanda bahwa anda memasuki kawasan bersejarah,” tuturnya.***

Baca Juga

Bandung Creative Hub Resmi Beroperasi, Apa Saja Fasilitasnya?

BANDUNG, (PR).- Setelah terbengkalai cukup lama, Bandung Creative Hub (BCH) secara resmi dibuka untuk publik, Kamis, 28 Desember 2017. Pusat simpul kreatif warga Bandung dengan nilai sekitar Rp 40 miliar ini menjadi yang terlengkap dan pal

Pembangunan Gapura di Kota Bandung Dinilai Melanggar Perwal

BANDUNG, (PR).- Pembangunan sejumlah tugu dan gapura kota lama Bandung dinilai telah melanggar Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 921 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Perda Kota Bandung No­mor 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Ban