2018, Layanan di 7 Puskesmas Kota Bandung Ditambah

Bincang/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
MENTERI Kesehatan Nila Moeloek (tengah) berbincang dengan warga saat melakukan kunjungan ke Puskesmas Garuda di Jalan Dadali, Kota Bandung, Kamis 14 Desember 2017. Kunjungan tersebut dilakukan terkait pencanangan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).*

BANDUNG, (PR).- Kota Bandung berencana menambah 7 puskesmas dengan fasilitas lengkap pada 2018. Puskesmas yang direnovasi untuk peningkatan tambahan layanan ini mempertimbangkan kondisi perbaikan puskesmas yang mendesak, populasi penduduk sekitar, hingga syarat luas lahan sesuai aturan Kementerian Kesehatan.

“Untuk 2018, dari APBD itu 6 puskesmas yang direnovasi, di-upgrade (ditingkatkan). Dari DAK (Dana Alokasi Khusus APBN) kami mendapatkan satu puskesmas di-upgrade. Jadi total 7. Insyaalah, mudah-mudahan tidak ada perubahan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita seusai menerima kunjungan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek, di Puskesmas Garuda, Bandung, Kamis, 14 Desember 2017.

Puskesmas Sukahaji akan ditingkatkan dari segi bangunan dan fasilitasnya dari bantuan DAK dengan nilai tidak kurang dari RP 4 miliar. Sementara dari APBD merencanakan alokasi anggaran hingga Rp 10 miliar untuk enam puskesmas, yang salah satu di antaranya untuk Puskesmas Sukarasa.

Dalam menentukan peningkatan fasilitas puskesmas ini, kata Rita, Dinas Kesehatan Kota Bandung harus merujuk pada ketentuan yang tertuang pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014. Syarat peningkatan fasilitas ini harus melewati penilaian dan verifikasi.

“Tergantung emergency (urgensi kebutuhan)nya, dilihat yang mana yang paling harus segera direnovasi. Di setiap puskesmas berbeda-beda, tergantung dari jumlah penduduk, luas wilayah. Masing-masing puskesmas tergantung kondisi penduduknya, tidak akan sama setiap puskesmas, termasuk inovasinya,” katanya.

Berdasarkan permenkes itu, luas lahan harus memenuhi minimal 600 meter persegi, dan luas gedung minimal 400 meter persegi. Berbeda dengan ketersediaan lahan di wilayah kabupaten, kata dia, Kota Bandung dihadapkan pada minimnya sisa lahan. Maka, pembangunan ke arah vertikal menjadi solusinya.

Ramah anak

Dari 75 puskesmas di Kota Bandung, salah satu puskesmas andalan adalah Puskesmas Garuda. Menempati gedung tiga lantai yang dilengkapi lift, puskesmas ramah anak ini memanjakan para pasiennya.

“Mulai dari pendaftaran khusus anak, anak didahulukan dari yang lainnya. Lalu kalau ada anak yang ikut ke puskesmas mengantar orang tuanya yang berobat, dia main di ruang bermain yang disiapkan. Ada juga klinik umum, gigi, termasuk ruang konseling remaja,” ujarnya.

Kepala UPTD Puskesmas Garuda dr. Mitta Kurniati mengatakan, puskesmas 24 jam ini diperkuat 7 dokter, 13 perawat, dan 18 bidan, untuk melayani 250 hingga 400 pasien per hari.

“Fasilitas kesehatan tingkat primer itu sudah diberi kompetensi untuk 144 penyakit. Jadi 144 penyakit itu sudah harus selesai di tingkat primer, tidak boleh dirujuk. Itu dipantau terus, yang nonspesialistik sudah harus selesai di kita. Tetapi kalau butuh keperluan spesialistik tetap harus dirujuk. Hipertensi itu wewenang kita, tetapi ketika komplikasi wajib dirujuk,” tutur Mitta.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek mengapresiasi kualitas pelayanan Puskesmas Garuda. “Saya bangga. Puskesmas Garuda itu yang pertama fisik, keduanya tentu isinya, prasarana sangat memadai, dan ketiga yang saya lihat adalah mereka sangat perhatikan kemanusiaannya. Jadi ini puskesmas ramah anak, dan juga untuk ibu hamil,” ujarnya.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berjanji menganggarkan untuk peningkatan puskesmas lainnya. “Jadi kalau semakin banyak puskesmas yang bisa membereskan urusan kesehatan seperti rumah sakit, itulah yang diharapkan dalam melayani kesehatan masyarakat. Jangan sedikit-sedikit ke rumah sakit. Sekarang mah sedikit-sedikit ke puskesmas saja, karena kualitasnya sudah memadai,” tuturnya.***

Baca Juga