Awas Retakan Tanah, Hati-hati Melintasi Jalan Punclut

Garis Polisi/HENDRO SUSILO HUSODO/PR
GARIS polisi terpasang di pinggir Jalan Pagermaneuh atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Punclut, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 8 Desember 2017.*

 

NGAMPRAH, (PR).- Dari tahun ke tahun retakan tanah semakin mendekati badan jalan di Jalan Pagermaneuh atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Punclut di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Agar tak membahayakan warga dan pengguna jalan, Kepolisian Sektor Lembang sampai memasang garis polisi pada bahu jalan.

"Jadi, pemasangan garis polisi itu bukan karena apa-apa, tetapi supaya tidak ada warga atau pengendara yang mendekat ke daerah bekas longsor. Sekarang jalannya masih aman terkendali dan semoga akan tetap demikian. Namun, kalau ada tanda-tanda retakan tanah membesar, bisa saja lalu lintas ditutup sementara," kata Kepala Polsek Lembang Rahmat Lubis, Minggu, 10 Desember 2017.

Sekretaris Desa Pagerwangi Atang Suherlan menuturkan, warga di RW 10 Kampung Babakan Bandung yang berdekatan dengan lokasi retakan tanah sudah mengetahuinya. Bahkan, kata dia, warga sekitar mengkhawatirkan retakan tanah kembali menimbulkan longsor, seperti yang terjadi pada 2004 lalu ketika longsoran tanah memakan korban jiwa sebanyak dua orang.

"Di sekitar situ tahun 2004 ada longsor besar, dua orang warga meninggal dunia. Namun, sebelum 2004 itu pun sebetulnya sudah ada pergerakan tanah. Sampai sekarang juga tanahnya terus bergeser, dan retakannya semakin mendekat ke jalan. Dari badan jalan, tanah yang erosi itu sekarang paling tinggal berjarak dua meter," katanya.

Dia menyebutkan, di pinggir jalan sebenarnya ada jalan setapak dan parit kecil. Akan tetapi, kontur tanah yang miring dan labil membuat warga sekitar enggan mendekatinya. Menurut dia, kondisi tanah yang rawan ambles di pinggir Jalan Pagermaneuh panjangnya sekitar 250 meter, sedangkan kedalaman lembah di pinggir jalan mencapai 60 meter.

Waspadai macet

Berbeda dengan warga sekitar, kata dia, masyarakat umum banyak yang tidak tahu kondisi tanah tersebut karena terdapat ilalang yang menutupinya. Oleh karena itu, warga dan pemerintah desa mengusulkan pemasangan garis polisi sehingga daerah tersebut tidak didekati. Sejak sekitar tiga pekan lalu, Polsek Lembang pun memasang garis polisi.

"Diusulkan police line itu kan biar daerah di situ dihindari. Warga sih sudah hafal, tapi orang lain kan enggak tahu. Sementara Sabtu dan Minggu Jalan Punclut itu selalu ramai, karang-kadang malah macet. Yang dikhawatirkan, ada pengendara mobil yang beristirahat di situ. Padahal, di situ tanahnya rawan ambles. Orang jalan saja tanahnya bisa turun, apalagi mobil," ucapnya.

Lebih lanjut, Atang menjelaskan, kondisi tanah yang labil itu sudah dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebagai langkah awal, kata dia, Pemdes Pagerwangi berharap agar Jalan Pagermaneuh digeser. Sementara untuk jangka panjang, pemindahan jalan secara permanen dinilai perlu dilakukan.

"Sejak 2012, pemdes sudah mengupayakan penanganannya ke kabupaten. Terakhir, Oktober atau September kemarin juga sudah langsung kami sampaikan ke provinsi. Kami laporkan supaya dilakukan pengecekan jalan, sekaligus permintaan biar jalannya digeser beberapa meter. Sepertinya jalan di situ bisa digeser dulu, sambil menunggu jalannya dipindahkan," tuturnya.

Kendati demikian, dia mengaku tidak tahu tindak lanjut dari pelaporan tersebut, karena hingga kini belum ada surat tanggapan yang diterima Pemdes Pagerwangi. "Barangkali sudah disurvei, tetapi memang sejauh ini enggak ada koordinasi dengan desa. Di situ juga sudah sering dipasang plang rawan longsor, tapi terus-terusan hilang," tukasnya.***

Baca Juga