Mulai Pekan Depan, Museum Gedung Sate Terbuka untuk Umum

Museum Gedung Sate/HUMAS JABAR
WAKIL Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar saat meninjau Museum Gedung Sate, di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, 29 November 2017 lalu.*

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan  meresmikan Museum Gedung Sate, Jumat 8 Desember 2017 sore. Mulai pekan depan, masyarakat Jawa Barat akan dapat mengunjungi museum yang terletak di bagian timur Gedung Sate ini dan mendapatkan pengalaman sarat sejarah dengan sentuhan teknologi digital. 

Kepala Bagian Publikasi Setda Jabar, Ade Sukalsah, mengatakan bahwa museum yang memiliki luas 500 meter persegi ini digratiskan untuk umum hingga akhir Desember 2017. Untuk harga tiket masuk di bulan berikutnya sekitar Rp 5.000.

"Waktu operasionalnya pukul 10.00-16.00 WIB. Buka tiap hari, tapi Senin libur," kata Ade di Gedung Sate, Rabu 6 Desember 2017.

Museum ini berkonsep membahas soal arsitektur gedung sate (sebagai gedung terindah di dunia) dan sejarah yang menyertainya. Memiliki tiga segmen: Segmen pertama, prolog; Segmen kedua, eksplorasi; Segmen ketiga, kontemplasi. 

Ketua Tim Museum Gedung Sate, Ade Garnandi mengatakan, museum ini dibangun karena Gedung Sate adalah lambang di Jawa Barat yang memiliki nilai historis tinggi. "Ada nilai-nilai perjuangan di dalam sini, bahkan ada yang sampai mengorbankan jiwa raga melindungi statusnya sebagai milik bangsa Indonesia," katanya. 

Ade mengatakan, museum ini dirancang dari dua tahun. Pencarian informasi (riset) dilakukan sampai ke Belanda dan beberapa museum perpustakaan di sana. Pembangunan fisik museum yang berada di lantai dasar Gedung Sate ini memerlukan waktu 5 bulan dengan penyelesaian konten museum dilakukan sekira 3,5 bulan.

Cari data ke Belanda

Tim Konten Museum Gedung Sate harus terbang ke Belanda, karena Gedung Sate dibuat pada era kolonial, sehingga perlu meriset sejarah dari negara asal arsiteknya.

Walaupun bertemakan sejarah, pengunjung akan merasakan sensasi teknologi yang interaktif saat menggali informasi dari museum ini. Teknologi seperti layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis menarik menjadi daya tarik atraksi Museum Gedung Sate.

Pengunjung juga dapat mencoba kacamata virtual reality yang membuat pengunjung seolah-olah menaiki balon udara mengelilingi area sekitar Gedung Sate. Ada juga ruangan yang membuat pengunjung seolah-olah terlibat pada pengerjaan Gedung Sate, dengan teknologi augmented reality. 

Di museum ini, kata Ade, pengunjung tidak hanya dapat melihat sejarah Gedung Sate, saja, tetapi juga sejarah Kota Bandung. Ade mengatakan informasi yang akan disajikan dalam museum ini juga akan ditampilkan menggunakan teknologi digital. Sehingga, sambung dia, konten yang ditampilkan mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan mulai anak-anak hingga orang tua.

Tidak hanya itu, kata dia, konten yang ada di dalam museum bisa diperbaharui apabila ada kesalahan atau penemuan baru. Sehingga, informasi sejarah yang disuguhkan tidak keliru dan sesuai fakta keilmuan.***

Baca Juga

Perekaman E-KTP Jawa Barat Capai 99,2 Persen

SUMEDANG, (PR).- Perekaman data kependudukan untuk KTP elektronik di wilayah Jawa Barat saat ini sudah mendekati angka sempurna yaitu mencapai 99,2%.

Rumah Sakit Umum Daerah Siap Layani Korban Miras Oplosan

BANDUNG, (PR).- Sejak Minggu 8 April 2018 media massa di Jawa Barat memberitakan banyaknya korban jiwa yang ditimbulkan akibat keracunan minuman keras oplosan, di beberapa daerah di Jabar dengan jumlah korban terbesar di  Kabupaten Bandung

Aher Ajak Mahasiswa Ciptakan Solusi untuk Kesejahteraan Rakyat

BANDUNG, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher mengatakan, misi kebangsaan ke depan adalah membangun masa depan Indonesia dengan perencanaan yang baik. Kita perlu melahirkan solusi berbagai permasalahan bangsa.