Ridwan Kamil: Bonek Jangan Menggelandang di Bandung

Bonek/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
SEJUMLAH Bonek menggotong rekannya yang meringis kesakitan karena terluka bagian kaki di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Minggu, 8 Januari 2017.*

BANDUNG, (PR).- Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyambut hangat kedatangan para pendukung tim yang berlaga di Babak 8 Besar Grup Y Liga 2. Mereka yang dsiambut  termasuk bonek yang bakal datang mendukung Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Kendati begitu, Ridwan Kamil meminta massa suporter Persebaya itu menjadi tamu yang baik di Kota Bandung. Hal itu dsiampaikannya mengingat sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di Kota Bandung saat bonek datang awal januari 2017 lalu.

"Kota Bandung sudah sering jadi tuan rumah even apapun, nanti akan kami improvisasi. Lihat kondisi seperti ketika dulu datang ke Kota Bandung," ujarnyna di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa 14 November 2017.

Ia mengimbau kepada bonek untuk tidak mengganggu aktivitas warga ketika sudah sampai di Kota Bandung.

"Imbauan saya, pokoknya, datang jadi tamu yang baik. Jangan ganggu warga dan menggelandang," katanya seperti diwartakan Galamedianews.

Awal janauri 2017 lalu sata bonek berdatangan ke Kota Bandung guna mengawal jalannya Kongres PSSI, mereka ditampung di dua tempat yaitu di GOR Sepak Takraw, Jalan Lodaya dan di GOR Pajajaran, Jalan Pajajaran.

Selama sekitar empat hari ditinggali bonek, sejumlah fasilitas pengurus daerah cabang olah raga dan kios pedagang di lingkungan GOR Pajajaran Kota Bandung rusak. Selain itu barang-barang di fasilitas dan kios tersebut juga raib dijarah oknum bonek.

Militansi bonek

Sejarah mencatat, bonek adalah kelompok suporter sepak bola yang menjadi pelopor untuk banyak hal dan mewarnai dunia sepak bola Indonesia.

Bonek menjadi pelopor untuk dukungan laga tandang, penggunaan logo sebagai identitas dukungan, serta membangkitkan tradisi penggunaan atribut dukungan.

Laman wikipedia menyebut, pertama kali istilah ’bonek’ muncul di Harian Pagi Jawa Pos tahun 1989.

Istilah ’bonek’ digunakan untuk menggambarkan fenomena massa pendukung Persebaya 1927 yang berbondong-bondong ke Jakarta.

’Bonek’ merupakan akronim dari ’bondo nekat’. Istilah itu merujuk pada kebiasaan yang mereka lakukan untuk berangkat mendukung Persebaya saat melakoni partai tandang. Mereka kerap tidak membawa bekal cukup atau bahkan tidak membawa bekal sama sekali namun tetap nekat berangkat demi bisa mendukung Persebaya.

Secara tradisional, mereka adalah pelopor suporter di Indonesia yang menggambarkan fenomena pendukung tim sepak bola yang mengiringi tim pujannya bertanding ke kota lain seperti tradisi yang biasa terjadi di Eropa.

Sebelumnya, di Indonesia, tidak ada kelompok suporter yang melakukan perjalanan ke kota lain untuk mendukung tim kesayangannya dengan sangat terorganisasi seperti bonek.

Akan tetapi pada perkembangannya, kelompok massa suporter yang melakukan perjalanan ke luar kota itu kerap terlibat bentrok dengan kelompok suproter tim lain maupun pendukung tim tuan rumah.***

Baca Juga

Suhu Terendah Bandung Ternyata Bukan Hari Ini

BANDUNG, (PR).- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengatakan, suhu dingin yang dirasakan di Bandung beberapa hari terakhir ini masih berada dalam kisaran normal.

Ginan Koesmayadi Sosok yang Menginspirasi

BANDUNG, (PR).- Kota Bandung kehilangan salah satu warga terbaiknya. Dia adalah Derajat Ginan Koesmayadi, pendiri Rumah Cemara, komunitas yang bergerak dalam pembinaan dan advokasi Orang dengan HIV-AIDS (ODHA).