Kasus Kembar Siam Gani-Malik Berbeda dengan Wanda-Wandi

pembuangan bayi
Ilustrasi/FIAN AFANDI/PR

NGAMPRAH, (PR).- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat Pupu Sari Rohayati mengatakan, kasus Gani-Malik, bayi kembar siam asal Padalarang berbeda dengan kasus kembar siam yang sempat dialami Wanda-Wandi asal Kecamatan Cipeundeuy. Gani-Malik terlahir dengan satu jenis kelamin, sehingga penanganannya pun berbeda.

"Kondisinya (Gani-Malik) berbeda dengan Wanda-Wandi. Kalau Wanda-Wandi dulu hanya dempet di dada, jenis kelamin ada 2, tangan dan kaki ada 4. Sementara Gani-Malik hanya 1 jenis kelamin," ujar Pupu, Selasa, 14 November 2017.

Dengan kondisi itu, menurut Pupu, Gani-Malik sulit dipisahkan melalui operasi. Dengan demikian, penanganan di RS Hasan Sadikin untuk bayi tersebut pun dilakukan seperti bayi biasa.

Dia menuturkan, bayi kembar siam memang kejadian langka. Dari berbagai kasus, ada yang bisa dipisahkan dan ada juga yang tidak. "Untuk kasus Gani-Malik, kita tunggu saja perkembangan dari RSHS," ucapnya.

Siap fasilitasi biaya

Meski demikian, Pupu mengaku siap memfasilitasi biaya pengobatan bayi kembar siam tersebut melalui BPJS Kesehatan. Dengan BPJS, pengobatan ditanggung pemerintah pusat.

Pupu juga enggan berkomentar banyak soal harapan hidup bayi kembar siam Ahmad Gani dan Ahmad Malik. "Kita berharap ada solusi terbaik untuk kasus bayi kembar siam ini," ujar Pupu.

Untuk diketahui, kasus bayi kembar siam di KBB sempat dialami Wanda Nugraha dan Wandi Dunyandi, asal Desa Ciroyom, Kecamatan Cipeundeuy pada 2010. Keduanya sempat menghebohkan masyarakat Jawa Barat dan nasional karena terlahir kembar siam, dempet di bagian perut.

Namun pada 19 Maret 2012, keduanya berhasil dipisahkan setelah menjalani serangkaian operasi di RS Hasan Sadikin Bandung. Mereka kini dalam kondisi sehat.

Kedua putra pasangan Deden Amung Sunarya (31) dan Lina Marwati (24) itu cukup beruntung mengingat bayi kembar lainnya dari desa yang sama, Ginan Septian Nugraha tak bisa diselamatkan. Ginan mengidap kembar parasit di mana kembarannya keluar dari mulutnya. Pada Agustus 2015, bayi malang itu meninggal dunia setelah sempat menjalani operasi pada 2013.

Sementara itu, bayi kembar siam Ahmad Gani dan Ahmad Malik terlahir dari pasangan Agus Priyanto (47) dan Maria (39), warga RT 3, RW 27, Desa/Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Jumat, 10 November 2017. Bayi tersebut terlahir dalam kondisi dempet di bagian perut, 2 kepala, 2 badan, 2 kaki, 4 tangan, 1 anus,dan 1 jenis kelamin.***

Baca Juga

Pekerja Sosial Harus Bersertifikat

NGAMPRAH, (PR).- Pekerja sosial harus memiliki sertifikat untuk membuktikan kualitas dan kompetensi mereka dalam menjalankan tugas.

KBB Belum Terapkan Aturan Taksi Online

NGAMPRAH, (PR).- Meski pemerintah telah menetapkan peraturan mengenai taksi daring (online) per 1 November 2017, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat belum memberlakukannya.