Akibat Pembangunan di Bandung, Kian Petang Blekok Pulang

Pembangunan di Kampung Blekok/ADE BAYU INDRA/PR
ALAT berat menguruk lahan di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Rancanumpang, Gedebage, Kota Bandung, Jumat 20 Oktober 2017. Aktivitas alat berat di kawasan tersebut mengancam habitat burung blekok yang termasuk spesies dilindungi.*

BANDUNG, (PR).- Habitat burung blekok –termasuk ke dalam spesies kuntul kerbau yang dilindungi—di RW 2, Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kota Bandung semakin terdesak oleh aktivitas pembangunan. Jumlah burung yang singgah di sana terus menurun.

Warga meminta pemerintah membuat kebijakan komprehensif untuk melindungi kawasan unik tersebut.

Proyek pembangunan salah satu kompleks perumahan besar saat ini berlangsung di empat sisi luar Kampung Rancabayawak. Terjadi pengurukan dan perataan lahan setinggi lebih dari 2  meter.

Akibat kesibukan itu, burung yang singgah setiap petang berjumlah 800-an ekor. Angka itu jauh berkurang dari jumlah burung dalam periode sama tahun-tahun sebelumnya, yakni mencapai lebih dari 1.000 ekor. 

”Aktivitas pembangunan, dengan kehadiran alat-alat berat, membuat kawanan burung semakin petang pulang ke kampung ini. Jumlahnya juga menurun. Kami harap, ada kebijakan komprehensif dari pemerintah,” tutur Ketua RW 2 Kampung Rancabayawak Ujang Safaat, Jumat 20 Oktober 2017 siang.

Ia mengungkapkan, warga Kampung Rancabayawak bukannya menolak pembangunan. Mereka meminta agar proyek dikerjakan secara bijaksana dengan mempertimbangkan situasi lingkungan sekitarnya, terutama habitat burung blekok yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ujang menyarankan, pengerjaan fisik dilakukan secara bertahap, tidak serentak.

 Ujang juga meminta agar proyek pembangunan tidak diikuti oleh pembuatan pagar beton sebagai pembatas lahan. Jika pagar beton dibangun tepat di samping rumpun-rumpun bambu, dikhawatirkan habitat burung bakal terganggu.

Keberadaan burung blekok, menurut Ujang, merupakan identitas kampung seluas 2,1 hektare dengan jumlah penduduk 238 jiwa tersebut.

Habitat ini yang membuat warga secara turun-temurun menghargai lingkungan lewat ajaran pamali. Terlarang bagi mereka untuk merusak lingkungan, mengganggu burung, serta merusak pohon.

 Di sekitar Kampung Rancabayawak terdapat sawah seluas 4 hektare. Yang terus berkurang adalah luasan lahan basah sebagai tempat burung mencari makan.

Karena tidak bisa menemukan lagi makanan di kawasan sekitar Gedebage, ratusan burung blekok terbang ke berbagai penjuru mata angin saban pagi. Mereka mencari makanan di Ciparay, Cileunyi, kawasan Mohammad Toha, hingga Pameungpeuk (Garut).

Spesies kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dinyatakan sebagai satwa dilindungi seturut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Di Kampung Rancabayawak, burung-burung itu bersarang di rumpun-rumpun bambu.

Ramah lingkungan

Pemerintah Kota Bandung sejak lama menjadikan Kecamatan Gedebage sebagai wilayah pengembangan baru. Wali Kota Ridwan Kamil menyebut kawasan seluas lebih dari 600 hektare tersebut dengan istilah keren, Teknopolis.

Koordinator Gerakan Peduli Sungai Ardhi Elmeidan menyatakan, banyaknya proyek pembangunan di Gedebage semestinya tidak boleh melupakan upaya pelestarian lingkungan.

Pembangunan yang ramah lingkungan memperhatikan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan itu, termasuk habitat burung blekok.

”Kalau pembangunan berdampak buruk terhadap habitat burung blekok di Kampung Rancabayawak, kita bisa pastikan, kebijakan pengembangan Gedebage ini tidaklah ramah lingkungan. Harus ada komitmen kuat dari semua pemangku kepentingan,” katanya.***

Baca Juga