Lojek, Solusi bagi Ojek Pangkalan Hadapi Persaingan Ojek Online

Sepeda motor di salah satu sudut kampus Unpad Jatinangor/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Bandung tengah menyiapkan sistem jasa transportasi berbasis aplikasi khusus bagi para pengemudi ojek pangkalan dengan nama Lojek, alias Lokal Ojek. Layanan antar penumpang dan barang dengan sepeda motor ini disiapkan sebagai solusi ojek pangkalan dalam menyaingi ojek berbasis aplikasi milik perusahaan besar.

“Ojek pangkalan ini kategori pengangguran terselubung. Artinya, punya pekerjaan tetapi tidak memiliki penghasilan tetap. Mereka sudah ketinggalan oleh ojek online,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Bandung Asep Cucu Cahyadi, di Bandung, Rabu 11 Oktober 2017.

Lojek ini diciptakan sebagai salah satu upaya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Bandung saat pekerja mengalami degradasi. Cucu menjelaskan, di tengah serbuan ojek berbasis aplikasi, pengemudi ojek pangkalan disinyalir akan terjerumus ke jurang kemiskinan.

Dalam praktiknya, cara beroperasi ojek pangkalan tentu sudah tertinggal untung daripada ojek modern berbasis aplikasi yang tengah digandrungi warga kota. Ojek pangkalan kebanyakan menunggu penumpang, dan lebih menggantungkan nasib pada langganan.

Walau demikian, ojek telah menjadi alternatif warga dalam menyintas tantangan ekonomi. Berdasarkan data BPS pada 2016, dari 1.2 juta angkatan kerja di Bandung terdapat 9,02% yang menganggur, atau sekitar 107 ribu warga tak memiliki pekerjaan. Maka, bantuan sistem jasa transportasi berbasis aplikasi ini menjadi upaya menolong tenaga kerja agar tidak jatuh miskin.

“Ojek pangkalan ini penghasilannya juga tidak menentu. Kebanyakan dari mereka rawan terjerumus ke jurang kemiskinan. Mudah-mudahan Lojek jadi solusi, pengangguran terselubung bisa teratasi, kemiskinan pun bisa teratasi,” katanya.

Cara menggunakan jasa Lojek ini agak berbeda dengan ojek berbasis aplikasi yang telah ada. Fitur aplikasi yang tersedia di Playstore hanya bagi pengguna jasa. Sementara pengemudi ojek cukup dibekali kartu pintar.

Sama dengan ojek online

Pemesanan ojek via aplikasi juga tidak berbeda. Pengguna jasa Lojek cukup menentukan lokasi tujuan pengantaran untuk kemudian mendapat estimasi tarif yang mesti dibayar. Dalam sistem Lojek, pengemudi ojek tidak terhubung langsung dengan pengguna jasa.

Pengemudi Lojek hanya dibekali kartu untuk disentuhkan di mesin yang ditempatkan di pangkalan ojek wilayah. Dengan menyentuhkan kartu pintar khusus pada papan pembaca kartu di pangkalan, pengemudi Lojek dinyatakan bersedia untuk mengantar penumpang dan langsung masuk antrian kerja. Dengan begitu, pengemudi Lojek akan mendapat giliran untuk mengantarkan penumpang.

“Kita gunakan kartu karena banyak pengemudi ojek yang tak paham cara menggunakan smartphone. Alasan itu pula yang jadi hambatan bagi mereka untuk mendaftar di perusahaan ojek online. Maka, keluhan ini kami akomodasi melalui Lojek,” ujar Cucu.

Disnakertrans Kota Bandung akan segera merampungkan Lojek pada akhir Oktober ini. Sebanyak 10 pangkalan akan dijadikan wilayah percontohan.***

Baca Juga

Lojek Ternyata Tak Butuh Smartphone

BANDUNG, (PR).– Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, Selasa 17 Oktober 2017 ini melakukan uji coba aplikasi Lojek (Lokal Ojek) di kawasan Leuwipanjang.

Mogok Masal Angkutan Umum, Ridwan Kamil: Tong Hariwang

BANDUNG, (PR).- Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mempersilakan unjuk rasa pengemudi angkot, asalkan sesusai aspirasi. Pemerintah Kota Bandung telah menyiapkan instrumen alternatif pengganti bagi warga selama angkot tidak beroperasi.