Dinas Perikanan KBB Pastikan Ikan di Saguling Masih Layak Konsumsi

Waduk Saguling/DEDEN IMAN/PR
WARGA memperbaiki perahu di tepi waduk Saguling yang dipenuhi tanaman eceng gondok di Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 25 Juli 2017. Keberadaan eceng gondok di kawasan tersebut membuat aktivitas nelayan terhambat serta rusaknya ekosistem bawah air akibat. Ini terjadi karena berkurangnya jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air.*

NGAMPRAH, (PR).- Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat mengklaim bahwa ikan di Waduk Saguling masih aman dan layak konsumsi. Kematian ikan  secara massal di waduk tersebut murni akibat faktor cuaca.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB, Undang Husni Tamrin, mengungkapkan, matinya 17 ton ikan di Waduk Saguling baru-baru ini terjadi akibat penyusutan air waduk, sehingga menyebabkan kurangnya oksigen. "Itu berdampak pada kematian ikan secara massal, karena ikan yang tadinya tersebar kini jadi berkumpul, sehingga kekurangan oksigen," katanya, Minggu 1 Oktober 2017.

Menurut Undang, penyusutan air Waduk Saguling biasa terjadi setiap tahun akibat kemarau panjang. Namun, dia mengakui, tahun ini kondisinya paling parah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, ia memastikan, kematian ikan secara masal itu bukan terjadi akibat pencemaran air di Waduk Saguling. Dengan demkian, ikan-ikan di waduk tersebut pun masih layak dikonsumsi.

"Untuk mengurangi kematian ikan ini, kami juga sudah mengimbau kepada para pembudi daya ikan agar mengurangi tebaran ikan hingga air waduk kembali normal," tuturnya seraya menambahkan, berdasarkan prediksi BMKG, hujan mulai turun pada Oktober-November ini.

Selain faktor cuaca, lanjut dia, hal lainnya yang berpengaruh terhadap kondisi ikan yakni banyaknya eceng gondok atau gulma. Gulma ini muncul dengan cepat dan membuat produksi ikan terganggu. "Makanya, pembudi daya ikan di Saguling juga sering melakukan pembersihan gulma ini. Hal itu agar menghindari lebih banyak lagi ikan yang mati," ujarnya.

Kapasitas berlebih

Lebih jauh Undang menjelaskan, keberadaan kolam jaring apung di Waduk Saguling saat ini memang sudah over kapasitas. Idealnya, hanya 2.800 KJA, namun faktanya yang terdata mencapai 7.200 KJA. Yang tidak terdata, kemungkinan lebih banyak lagi.

Undang menyebutkan, produksi ikan setiap tahunnya dari Waduk Saguling dan Cirata yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat mencapai angka 46 ribu ton/tahun dengan jenis ikan mas dan nila. Khusus di Saguling, produksi ikan mencapai 10 ton/hari. 

"Ikan ini didistribusikan ke berbagai daerah di Jawa Barat hingga ke Jakarta. Oleh karena itu, pemerintah daerah selalu memantau dan memperhatikan produksi ikan hingga kesehatan ikannya," ujar Undang.

Dia menambahkan, pihaknya juga sudah memiliki alat untuk mendeteksi kualitas air di Waduk Saguling dan Cirata bernama alat bouwaypluto. "Kami punya alat untuk mendeteksi kualitas air itu berjumlah 4 unit yang diberikan pemerintah pusat," ujarnya.***

Baca Juga

Karang Taruna Bandung Barat Didorong untuk Mandiri

NGAMPRAH, (PR).- Sejumlah karang taruna desa di Kabupaten Bandung Barat mulai menggeliat. Hal itu dibuktikan dengan berbagai aktivitas karang taruna yang mampu mengembangkan potensi desa.