Bandung Punya Museum Baru, Ini Koleksi Uniknya

Peta Museum perbendaharaan/NOVIANTI NURULLIAH/PR

BANDUNG, (PR).- Ada museum baru lagi di Kota Bandung, Jawa Barat. Museum Perbendaharaan yang letaknya tepat setelah Museum Geologi yang berada di Gedung D‎wi Warna, Jalan Diponegoro, Kota Bandung sebagai sarana wisata edukatif terbaru pilihan warga. Di sana warga akan dibukakan dengan informasi terkait pengelolaan uang negara dari masa ke masa. Yang menarik ternyata gedung tersebut ada kaitannya dengan peristiwa sejarah konferensi Asia Afrika yang pertama pada tahun 1955 lalu. Gedung tersebut dijadikan tempat pembahasan komisi ekonomi kala itu.

Kini cuplikan sejarah pengelolaan keuangan negara tersebut dirangkum dalam sebuah gedung bersejarah Dwi Warna yang terbuka untuk umum mulai, Selasa 26 September 2017 ini. Di sana terdiri dari tujuh bagian. Mulai dari sejarah perbendaharaan, Auditorium, Wall of Fame, Pojok KAA, Koleksi Benda dan Peralatan Kantor, Koleksi Buku Staatsblad, dan Special Mission.

Museum ini memiliki beberapa keunikan baik dari sisi koleksi, lokasi dan sisi kepeloporan pada transparansi dan akuntabilitas lembaga publik khususnya lingkup Kementerian Keuangan. Dari sisi koleksi, Museum Perbendaharaan memiliki dokumen, bahan pustaka dan peralatan yang mampu menggambarkan perkembangan sejarah pengelolaan perbendaharaan negara sebagai bagian penting dari pengelolaan keuangan negara.

Dari sisi lokasi, museum ini menempati ruang yang sama dengan yang digunakan untuk rapat-rapat Komisi Ekonomi dan Komite Kebudayaan pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Oleh karenanya Museum Perbendaharaan juga mempunyai kaitan erat, dan saat ini menjadi bagian dari paket kunjungan ke Museum KAA Jalan Merdeka Bandung. Adapun dari sisi kepeloporan transparansi dan akuntabilitas lembaga publik khususnya lingkup Kementerian Keuangan.

Penyusunan museum in telah dilakukan oleh Menteri Keuangan Bambang S Brojonegoro pada tanggal 20 Maret 2016. Soft Lauching dilaksanakan sehari kemudian oleh Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo. Setelah pengumpulan koleksi, penyempurnaan sarana dan kesiapan SDM pengelola telah dirapungkan, maka pada hari Selasa tanggal 26 September 2017, museum ini dinyatakan dibuka untuk masyarakat umum. 

Satu-satunya museum Kementerian Keuangan

Sekretaris Ditjen Perbendaharaan Haryana ‎menuturkan, karena museum ini masih menjadi satu-satunya museum di lingkungan Kementerian Keuangan yang dibuka untuk umum. Maka hal ini menjadi langkah terbaru Ditjen Perbendaharaan untuk menguatkan jati diri sebagai katalisator reformasi birokrasi. 

‎Pihaknya akan mendedikasikan diri untuk terus mengembangkan diri. Pada akhirnya akan menjadi referensi utama bagi para peminat sejarah, peserta studi, dan penelitian bidang perbendaharaan negara, bidang hukum keuangan negara dan bidang lainnya yang terkait, serta masyarakat pada umumnya.  "Adapun Misi yang diemban museum ini adalah mewujudkan Museum sebagai Media Informasi, Pendidikan dan Dokumen Sejarah Pelaksdanaan Perbendaharaan Negara,  Pusat Pengembangan dan Penelitian Pelaksanaan Perbendaharaan Negara di Indonesia serta Sarana Rekreasi Edukatif,"kata dia.

Kepala Kanwil DJPB Prov. Jabar Yaniar Yanuar Rasyid menambahkan,  sejak dinyatakan dibuka untuk umum pada selasa, 26 September 2017 ini. Masyarakat umum dan para pemangku kepentingan disilahkan melakukan kunjungan baik perorangan maupun rombongan ke lokasi tanpa dipungut biaya. Bagian yang dapat dinikmati dan dijadikan obyek penulisan/penelitian antara lain, Galeri Sejarah Perkembangan Fungsi Perbendaharaan yang menyajikan perkembangan sejarah perbendaharaan, struktur, unit pengelola dan para pejabat penting Kementerian Keuangan dengan berbagai kebijakannya. 

"Bagian ini juga mediskripsikan peristiwa Gunting Syafruddin, The Supreme Court and The Daendels Palace at The Waterloo Square, momentum dan sejarah penyusunan paket Undang-Undang Keuangan Negara. Yang terpenting langkah Reformasi Manajemen Keuangan Negara. Bagian Kedua adalah Auditorium dan yang ketiga adalah Galeri Koleksi yang menyajikan dokumen, peralatan, bahan pustaka seperti buku. Dan benda lain yang digunakan dalam pengelolaan perbendaharaan negara dari masa ke masa," kata dia.

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Museum ini terdapat pula “Pojok KAA”, kata dia, yang menyajikan toto-foto dinamika KAA. Termasuk aktivitas para pemimpin pemimpin Asia Afrika seperti Bung Karno, Pangeran Norodom Sihanouk, J. Nehru, Zhou En Lai, Gamal Abdul Naser, Raja Faisal, U Nu, Sir John Kotelawala, dan lain-lain. 

Pemerintahan yang transparan

"Dengan membuka Museum Perbendaharaan untuk umum, yang berarti membuka koleksi dokumen, bahan pustaka dan peralatan tentang proses sejarah perkembangan Perbendaharaan kepada publik. Ditjen Perbendaharaan meneguhkan sikap untuk memelopori erwujudnya reformasi birokrasi bagi perwujudan pemerintahan yang akuntabel dan transparan ntuk pembangunan negeri, khususnya di wilayah Provinsi Jawa Barat,"tutur dia.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzi mengatakan sebagai museum bersaudara, pihaknya telah membantu dalam konsultasi pendirian museum, dan pembekalan edukator. Menurut dia, museum tersebut potensi sangat banyak, mengingat ada keterikatan historis antara KAA dan menkeu, serta program visi dan misi kedua museum.

"Ini museum yang bersaudara, kerja sama erat di masa yang akan datang. Kami  dari KAA, menegaskan kesiapan kami untuk saling bekerja sama dengan museum ini untuk kerjasama publikasi dan koleksi,"ucap dia.‎ Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Prov. Jabar Ida Hernida yang menjelaskan kedudukan penting Museum, khususnya Museum Perbendaharaan dalam pengembangan pariwisata edukasi di Jawa Barat.***

Baca Juga

Hari Ini Digelar Razia Angkutan Online di Kota Bandung

BANDUNG,(PR).- Gabungan Dinas Perhubungan Jawa Barat, Polda Jawa Barat, Polrestabes Bandung dan Dinas Perhubungan Kota Bandung melakukan penertiban angkutan berbasis aplikasi di sejumlah titik di Kota Bandung, Selasa 10 Oktober 2017.