Butuh 159.000 Ton, Produksi Beras Bandung Barat Baru 11.0000 Ton

PEKERJA Pekerja menyelesaikan pengepakan beras di Gudang Bulog Divisi Regional (Divre) Provinsi Jambi, Pasir Putih, Jambi Selatan, Jambi, Kamis 27 April 2017.*PEKERJA Pekerja menyelesaikan pengepakan beras di Gudang Bulog Divisi Regional (Divre) Provinsi
Gudang Beras/ANTARA FOTO

NGAMPRAH, (PR).- Dari proyeksi kebutuhan beras tahun ini sebanyak 159.591 ton, sampai Juni 2017 produksi beras di Kabupaten Bandung Barat baru berjumlah 11.459 ton. Meski begitu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat meyakini bahwa swasembada pangan dapat terwujud. Lebih dari itu, produksi beras di Bandung Barat bisa surplus.

Menurut Kepala Dinas PKP Bandung Barat, Ida Nurhamida, sejak pemekaran daerah pada 2007, Bandung Barat selalu berhasil menciptakan swasembada pangan. Bahkan, produksi selalu surplus. Oleh kerena itu, dia meyakini bahwa kondisi ketahanan pangan pada tahun ini pun akan seperti tahun-tahun lalu.

"Sejak Bandung Barat eksis sampai sekarang, swasembada beras itu sudah tercapai. Bahkan, pada 2009 dan 2010 Pak Bupati mendapat penghargaan langsung dari Pak Presiden, karena program peningkatan beras nasional. Jadi, setiap tahun itu peningkatan bisa lebih dari 5%," kata Ida, di sela rapat Dewan Ketahanan Pangan Bandung Barat di Lembang, Rabu 13 September 2017.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional, dia menyebutkan, produksi beras pada 2016 produksi beras di Bandung Barat ialah sebanyak 162.409 ton. Adapun konsumsi beras di Bandung Barat pada 2016 sebanyak 100 kilogram per tahun per kapita. Ida mengklaim, para petani di Bandung Barat juga telah mengalami peningkatan kesejahteraan.

"Petani di Bandung Barat sudah meningkat kesejahteraannya. Ini diukur dari nilai tukar petani. Nilai tukar petani di Bandung Barat itu sekitar 135%. Artinya, petani sudah mampu, suda di atas 100%. Pendapatan dan pengeluaran petani itu ada lebihnya 35%, jadi petani sudah bisa menabung. Itu yang mengukur Badan Pusat Statistik," katanya.

Di samping mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejateraan petani, lanjut dia, sejumlah komoditas unggulan juga telah diekspor, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing. "Soalnya, bagaimanapun juga pendekatan pembangunan di sektor pertanian itu adalah agrobisnis, jadi menyangkut pasar," ujarnya.

Kendati demikian, Ida mengakui, program diversifikasi pangan di Bandung Barat masih belum optimal. Masyarakat Bandung Barat masih mengandalkan beras sebagai makanan pokok untuk dikonsumsi. Dari tingkat konsumsi beras sebanyak 100 kilogram/tahun/kapita pada 2016, ditargetkan pada 2017 tingkat konsumsi beras turun menjadi 97,47 kilogram/tahun/kapita.

Bersyukur selalu surplus

Di tempat yang sama, Bupati Bandung Barat Abubakar menyampaikan bahwa substansi dari ketahanan pangan ialah pemenuhan pangan berdasarkan hasil produksi dan daya beli masyarakat. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,6 juta, dia menilai selama ini kebutuhan pangan di Bandung Barat dapat tercukupi.

"Kalau lihat hasil produksi dengan jumlah penduduk, kami bersyukur data statistik mendukung, bahwa produksi pangan kami ini surplus. Jadinya, para petani di Bandung Barat masih bisa menjual hasil produksinya ke daerah luar. Namun, itu kan teori ekonomi yah. Biasanya itu kan para petani kalau hasil produksinya memiliki harga yang bagus, dia menjualnya lalu membeli lagi dengan harga yang murah," katanya.

Sebagai Ketua Dewan Ketahanan Pangan Bandung Barat, Abubakar menambahkan, pembangunan ketahanan pangan juga memerlukan keterlibatan satuan kerja perangkat daerah yang lain. "Camat juga harus tahu kondisi wilayahnya. Dalam konteks ketahanan pangan, diperlukan sinergitas dengan dinas-dinas terkait," tuturnya. ***

Baca Juga

Setelah BMI, Kini Redpem Dukung Paket Elin-Maman

NGAMPRAH, (PR).- Sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Kabupaten Bandung Barat turut mendorong paket bakal calon Elin Suharliah dan Maman S Sunjaya sebagai pasangan yang diusung PDIP pada Pilkad