Lima Fakta tentang Taman Cikapayang yang Baru Diresmikan

Peresmian Taman Cikapayang/HUMAS PEMKOT BANDUNG
WALI Kota Bandung Ridwan Kamil meresmikan Taman Cikapayang, Kamis, 17 Agustus 2017.*

TAMAN Cikapayang Dago sudah selesai direvitalisasi. Taman Cikapayang dengan wajah baru ini diresmikan oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Kamis, 17 Agustus 2017.

Peresmian ini juga disaksikan oleh Direktur JNE Muhammad Feriadi dan jajaran. Perusahaan jasa ekspedisi JNE merupakan penyumpang dana revitalisasi Taman Cikapayang melalui penyaluran CSR.

Rancangan terbaru taman yang berada di persimpangan Jalan Cikapayang-Jalan Ir.H. Djuanda ini dibuat Ridwan Kamil. Taman yang tepat di bawah bagian Jalan Layang Pasupati ini memiliki sejarah dan transformasi bentuk dari masa ke masa.

Berikut beberapa fakta Taman Cikapayang Dago yang dirangkum Pikiran Rakyat:

1. Buah kapayang yang membuat mabuk

Tahukah Anda dari mana asal istilah mabuk kepayang, yang kerap dilabelkan bagi mereka yang sedang jatuh cinta sehingga lupa dunia? Rupanya, dari buah yang dinamai oleh orang Sunda, yakni pohon kapayang. Orang Sunda menyebut pohonnya kapayang, buah mudanya picung—yang sering disantap setelah dioseng, sementara buah tuanya dikenal dengan kluwek.

Namun, sebelum jadi kuliner yang mantap, kapayang perlu direndam tiga hari agar racunnya hilang. “Kalau ada yang tidak sabar, baru dua hari direndam sudah dimasak, bisa-bisa yang makan keleyengan. Karena racunnya itu masih ada,” kata Bachtiar dari Kelompok Riset Cekungan Bandung, membuka ceritanya soal Taman Cikapayang. Ia ditemui PR, Rabu, 16 Agustus 2017 di Jalan Kolenang Kota Bandung.

Sejak zaman pendudukan Belanda di Dago, menurut cerita, pohon kapayang berdiri di sekitar taman yang eksis kini. 

2. Pom bensin

Lahan Taman Cikapayang pernah difungsikan sebagai SPBU pom bensin. Menurut salah seorang warga Saleh Sudrajat (65), tidak pernah ada ruang terbuka hijau di Cikapayang sebelumnya.

“Tidak ada yang nongkrong di Cikapayang saat itu. Tahun 1960-an masa saya sekolah, orang-orang ke Cikapayang hanya untuk antre beli bensin,” ujar Saleh yang menghabiskan masa kecilnya di Bukit Dago Selatan, kepada PR.

Namun, ketika kawasan pemukiman Dago telah menjadi tujuan rekreasi, kafe-kafe bermunculan di sekitar Cikapayang.

"Saat tempat manapun belum ada kafe, di Cikapayang paling pertama ada," ujar saksi hidup lainnya Minda (52), yang saat remaja tinggal di Buahbatu.

3. Pembangunan ruang terbuka hijau oleh Dada Rosada

Catatan PR, 31 Agustus 2006, Wali Kota Bandung Dada Rosada meresmikan Cikapayang jadi ruang terbuka hijau. Terdapat tanaman dan letter sign D, A, G, O yang menjadi landmark baru di tempat itu. Banyak wisatawan maupun warga Bandung sendiri yang mengabadikan gambarnya berlatar belakang patung huruf tersebut.

Selain untuk berfoto, berbagai komunitas seperti sepeda dan papan luncur menjadikan Cikapayang titik kumpul dan berlatih bersama. Komunitas pecinta binatang tertentu pun menjadikan Taman Cikapayang Dago tempat berbagi cerita.

4. Amfiteater baru

Jika sebelumnya, lantai Taman Cikapayang dibuat sedikit lebih tinggi dari jalan di sekitarnya, kini berbeda. Rancangan baru dari taman ini adalah dibangunnya amfiteater dengan dasar yang lebih rendah dari permukaan jalan raya. Kapasitasnya hingga 300 orang. Terdapat sejumlah bollard yang menghias bagian dasar amfiteater.

Pemilihan desain amfiteater ini bertujuan untuk menampung kegiatan publik, termasuk aktifitas komunitas kreatif, seni, atau budaya. Fungsi amfiteater ini mirip dengan ruang di Taman Musik Jalan Bali.

5. Parkir di mana?

Persoalan klasik taman ini ialah belum adanya lahan parkir yang memadai. Sejak Taman Cikapayang jadi ruang publik, pengunjung taman menjadikan bahu-bahu jalan dan trotoar sebagai tempat parkir. 

Pada Minggu pagi, Jalan Cikapayang hingga Badak Singa otomatis dipadati barisan sepeda motor dan mobil. Kendaraan pengunjung Jalan Dago tempat berlangsungnya car free day berebut tempat dengan jemaat gereja.

Rancangan Ridwan Kamil baru fokus pada riasan bagian tengah tamannya saja. Pada acara peresmian 17 Agustus 2017 pun, hadirin memarkirkan kendaraannya di bahu-bahu Jalan Cikapayang, Badak Singa, bahkan sampai Jalan Ciungwanara.***

Baca Juga

Setiap Hari Pemkot Bandung Terima Sekitar 60 Surat

SETIAP harinya Pemerintah Kota Bandung maupun kepala daerahnya menerima 30-60 surat. Surat-surat tersebut untuk keperluan yang beragam. Mulai dari permohonan kunjungan, undangan, hingga ajakan kerja sama.

9.000 Warga Kota Bandung Menderita Katarak

BANDUNG, (PR).- Sedikitnya 9.000 warga Kota Bandung memiliki masalah penglihatan, yakni katarak. Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena diketahui angka kebutaan yang disebabkan oleh katarak sangat tinggi.