Wisata Kuliner Tipker, Leker, dan Martabak Legendaris di Bandung

Lekker Story/ARIF HIDAYAH/PR

SEJUMLAH literatur menyebutkan, ada dua jenis martabak yang banyak dikenal di Tanah Air. Martabak manis dan martabak asin. Keduanya memiliki tekstur tebal. Setelah itu, dikenal kuliner dengan adonan menyerupai martabak, tetapi tak memiliki tekstur tebal. Orang biasanya menyebut dengan martabak tipis kering alias tipker.

Martabak jenis ini boleh saja sudah dikenal beberapa tahun silam. Namun, inovasi yang lahir dari kreasi pencinta kuliner tak pernah berhenti. Aneka modifikasi dari teknik dan bahan pembuatan pun terus dilakukan.

Seperti yang terjadi pada jajanan turun temurun, leker. Entah dari mana kue ini berasal secara spesifik, yang pasti pelafalannya sama seperti bahasa Belanda yaitu lekker. Kata ini diartikan untuk memuji rasa yang enak.

Menyebut kue leker, pikiran sudah pasti melayang pada masa-masa di sekolah dasar. Kue leker banyak dijajakan pedagang di depan sekolah. Adonan yang digunakan tak jauh berbeda dari martabak. Terbuat dari campuran telur, tepung terigu, susu, gula, dan air.

Karakteristiknya adalah ”kulit” yang sangat tipis dan renyah. Saking tipisnya, tak ditemukan adanya ”daging” pada kue leker.

Adonan dituangkan pada loyang lingkaran yang berputar. Setelah setengah matang, aneka isian seperti cokelat, potongan pisang dan gula ditaburkan. Ketika matang, kue leker dilipat menjadi setengah lingkaran. Rasanya manis, dan tentu saja renyah.

Waktu terbaik untuk melahapnya adalah selagi panas. Tapi, jajanan itu kini tak semudah dulu ditemukan dijajakan di depan sekolah atau pedagangnya berkeliling di kawasan permukiman.

Untuk menghidupkan kembali kenangan itu, Melvin Raymond Siswono (27) mendirikan Lekker Story pada 2014. Kedai ini ada di beberapa kota di Indonesia. Di Bandung, kedai Lekker Story berada di Jalan Mangga dan Jalan Lodaya.

Memasuki area kedai, penampakannya sederhana saja. Ada deretan kursi plastik yang digunakan pelanggan untuk menunggu. Dan, benar saja, pada kunjungan tim ”Food@holic” Pikiran Rakyat ke kedai Lekker Story di Jalan Mangga, kursi-kursi itu hampir selalu terisi penuh. Meski didominasi anak muda, banyak pula ibu yang datang membeli. Kompor putar yang digunakan untuk membuat leker, cukup menarik perhatian pengunjung.

Ada banyak varian topping yang bisa dipilih. Yang pasti, topping dasarnya mengandung cokelat, kacang, pisang, keju, dan beberapa isian kekinian seperti nutella, ovamaltine, oreo, skippy, silverqueen dan kitkat greentea. Tinggal pilih saja paduan yang ingin dipilih.

Harganya? Sangat bersahabat. Sepotong leker bisa ditebus dengan mengeluarkan uang Rp 2.000 hingga Rp 15.000 saja.

Kualitas bagus

Menengok ke belakang, Melvin mengawali Lekker Story dari sebuah kisah iseng. Sebagai penggemar makanan -khususnya jajanan pasar atau jajanan gerobak depan sekolahan, ia sering berkeliling untuk menjajal makanan tersebut.

”Dari sekian banyak jajanan pasar, yang saya kecewa justru  kue leker. Hampir setiap beli leker, saya meminta pedagang untuk menambahkan cokelat meses. Meski sudah membayar lebih untuk topping tambahan, tapi meses yang diberikan tetap sedikit,” ucap Melvin.

Melvin juga merasa, kulit leker yang dijajakan terlalu tipis. Hal itu membuat setiap gigitan pada kue leker menjadi patah sehingga terbuang begitu saja di lantai.

”Dari situ, saya berpikir untuk membuat kue leker lebih sempurna, dengan cara membuat kulit yang lebih tebal dan berasa gurih. Untuk topping-nya, saya membuat isian yang cukup banyak sehingga pelanggan tidak perlu komplain lagi dengan isi topping yang kurang banyak,” tuturnya.

Melvin mengatakan, meski harga yang ditawarkan sangat bersahabat, ia selalu berupaya untuk menyediakan bahan baku berkualitas baik. ”Misalnya, mesesnya punya kualitas cukup baik, dengan tidak berlilin di langit-langit. Keju juga menggunakan merek ternama, dan topping olesan juga berkualitas baik,” ucapnya.

Dia berharap, tak hanya produk makanan dari luar negeri yang menginvasi Indonesia. Namun, makanan tradisional Indonesia juga bisa di-franchise-kan ke luar negeri. ”Setidaknya dengan memperkenalkan lagi makanan tradisional Indonesia, ini bisa menjadi makanan yang digemari masyarakat untuk kalangan yang lebih beragam,” kata Melvin.

Krenyes Legendaris Martabak Asan

Penjaja martabak boleh saja tak terhitung di Bandung, apalagi Jawa Barat. Namun, yang legendaris, terus bertahan melawan zaman dan masih banyak diserbu pengunjung, bisa dihitung dengan jari. Martabak buatan Koh Asan salah satunya.

Terletak di pinggir Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Martabak Bangka Asan memang tak pernah sepi pembeli. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari Stasiun Bandung. Tengok di sebelah kiri, di sanalah martabak legendaris ini berada.

Yang unik dari martabak ini adalah teksturnya yang tipis dan kering. Topping yang ”dipeluk” kulit pun, akhirnya terasa menyatu dengan kulit itu sendiri. Krenyes jika digigit.

Meski tipis dan garing, daging martabak juga tetap terasa sedikit kenyal di lidah. Ini poin utama yang membedakan martabak tipker dengan crepes, atau adonan sejenisnya.

Jika biasanya perut sudah merasa cukup dengan menyantap satu atau dua potong martabak tebal, tunggu dulu! Sensasi menyantap tipker akan jauh berbeda. Bahkan, kita mungkin tak akan sadar telah mencomot tiga atau empat potong martabak tipker. Aduh!

Adonan yang digunakan untuk membuat tipker, sebenarnya sama saja dengan yang digunakan untuk membuat martabak tebal. Tentu saja, dengan porsi adonan yang lebih sedikit. Setelah adonan hampir matang, juru masak kembali menipiskannya dengan cara mengerok bagian dalam martabak.

Setelah itu, aneka topping ditambahkan. Ada jagung keju, kismis keju, keju kacang cokelat, cokelat keju, pisang keju, pisang cokelat, keju, kacang cokelat dan wijen. Kurang puas dengan pilihan yang ditawarkan, silahkan memodifikasi permintaan. Selama toppingnya tersedia, pelanggan bebas memilih. Jika ingin martabak tipker saja, pelanggan bisa memintanya tanpa topping.

Salah seorang pegawai, Ricko Sucipto (32) mengatakan bahwa cita rasa garing yang dimiliki bisa bertahan hingga setidaknya tiga minggu setelah dibuat. Dengan catatan, tidak ada topping keju atau pisang di dalamnya.

”Pisang dan keju mengandung air, jadi ketika menjadi topping, akan membuat adonan martabak menjadi lembap. Jadi, kalau garingnya mau tahan lama, bisa pilih topping kismis atau cokelat. Tanpa pengawet, rahasianya ada pada adonan dan pengapian,” ucap Ricko.

Karena keunggulan itu, banyak pula orang yang menjadikan martabak tipker ini sebagai buah tangan ketika bepergian ke luar negeri. ”Sering banget, biasanya belinya sampai 50 loyang. Ada yang untuk ke Amerika, Jepang, Tiongkok, Singapura, ke Hong Kong, dan banyak lagi,” tuturnya.

Berawal dari tantangan

Asan memulai usaha martabaknya pada 1973, di Jalan Rama Nomor 20, Bandung. Kala itu, ia ”ditantang” salah seorang pelanggan untuk membuat martabak tipis. Alasannya, martabak tebal sudah bosan karena terlalu banyak ditemui di mana-mana.

Dia menerima tantangan itu dan memulai proses uji coba. Ternyata berhasil. Martabak tipker kemudian dijual, dan mendapatkan promosi gratis dari mulut ke mulut. Orang yang tadinya hanya bisa menikmati rasa garing martabak di bagian pinggir, kini bisa mendapatkannya di semua bagian. Hingga kini, tipker Asan disebut sebagai pelopor tipker di Bandung.

”Sampai sekarang, adonannya dibuat langsung oleh ayah saya. Saya kadang-kadang menggantikan saja kalau tiba-tiba adonannya habis, tapi pelanggan masih banyak,” ucap Bagus (28), salah seorang putra Koh Asan.

Selain tipker, martabak biasa juga ditawarkan dengan topping beragam. Ada pula batagor dan siomay.

Mengenai topping yang klasik, Bagus punya alasan sendiri. Menurut dia, cita rasa klasik dan orisinal akan selalu dicari pelanggan, di tengah serbuan tren.

Dalam sehari, mereka biasanya menjual hingga seratus loyang martabak. Jumlah ini bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat ketika akhir pekan. Dari jumlah itu, 75 persen yang terjual adalah tipker.

”Yang paling laku keras adalah tipker dengan topping keju dan cokelat,” ujarnya.***

Baca Juga