RSUD Cikalongwetan Beroperasi Agustus Ini

Ilustrasi/DOK PR

NGAMPRAH, (PR).- Rumah Sakit Umum Daerah Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat segera beroperasi pada Agustus 2017. Hal itu menyusul telah terbitnya nomor registrasi rumah sakit tersebut dari Kementerian Kesehatan.

"Tinggal menunggu waktu untuk launching. Pembangunan sudah selesai dan sarana penunjang juga sudah siap," kata Pupu Sari Rohayati, Kepala Dinas Kesehatan KBB di Ngamprah, Jumat 21 Juli 2017.

Menurut Pupu, RSUD Cikalongwetan telah menerima nomor registrasi 3217007 dari Kementerian Kesehatan pada 20 Juli kemarin. Dengan terbitnya nomor itu, RSUD dinyatakan sudah siap beroperasi.

Meski demikian, saat ini RSUD tersebut masih kekurangan tenaga medis. Dari kebutuhan 240 orang, baru tersedia 84 orang. "Khususnya untuk dokter spesialis, seperti radiologis masih kosong. Ini secara bertahap akan dilengkapi sesuai dengan anggaran," katanya.

Selain itu, menurut dia, alat kesehatan yang sudah siap digunakan juga baru 60 persen. Namun, dia memastikan alkes akan segera tersedia dalam waktu dekat karena sekarang dalam proses pengiriman.

Pupu mengungkapkan, RSUD Cikalongwetan melengkapi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat setelah RSUD Cililin dan RSUD Lembang. RSUD Cikalongwetan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat KBB, terutama di wilayah Cikalongwetan, Cipeundeuy, dan sekitarnya.

RSUD tersebut merupakan rumah sakit terbesar dari dua rumah sakit lainnya milik Pemkab Bandung Barat. Hal ini tidak terlepas dari cakupan pelayanan RSUD Cikalongwetan yang cukup luas lantaran lokasinya berada di wilayah bakal pengembangan transit kereta cepat Jakarta-Bandung.

Bahkan, lokasinya yang berada di jalur perbatasan, RSUD Cikalongwetan juga siap menerima pasien dari Kabupaten Purwakarta. "Jadi, cakupannya luas. Tidak hanya Cikalongwetan dan Cipeundeuy," katanya.

Sejak 2008

Untuk diketahui, rencana pembangunan RSUD Cikalongwetan telah dimulai sejak 2008 lalu dengan uji kelayakan. Pada 2011, dibuat masterplan dan pada 2012 dibuat detail engineering design (DED). Akhir 2015, pembangunan fisik dimulai, ditandai peletakan batu pertama oleh Bupati Bandung Barat Abubakar.

Pembangunan rumah sakit tersebut menelan anggaran sekitar Rp 130 miliar dari APBD kabupaten, provinsi, dan pusat. Sementara proyek pelaksana pembangunan tersebut diserahkan kepada PT Nindya Karya.

Rumah sakit tipe C ini memiliki luas lahan 2,4 hektare dengan luas bangunan 134.000 meter persegi. Fasilitas di dalamnya mencakup beberapa ruang perawatan, yaitu VVIP 2 pasien, VIP 6 pasien, kelas I sebanyak 9 pasien, dan sisanya kelas II dan III.

"Paling banyak memang untuk kelas III, yaitu 76 pasien. Itu belum termasuk ruangan-ruangan lainnya, seperti ICU, UGD, ruang operasi, dan rontgen," tuturnya.***

Baca Juga