Hasil Uji Lab Keluar, PDAM Minta Polisi Selidiki Lebih Lanjut Soal Air Berwarna Merah

Air Keruh/TATI PURNAWATI
SEORANG warga menunjukan air PDAM di geas kemasan yang kondisinya keruh, Jumat, 22 Juli 2016. Keruhnya air PDAM menurut Direktur Utama PDAM akibat adanya pipa transmisi yang rusak terkena galian pelebaran jalan.*

BANDUNG, (PR).- Hasil uji laboratorium terkait temuan air berwarna merah di Gang Hidayah RW 6 Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar sudah keluar. Kesimpulannya, air sampel tersebut mengandung warna sintetik dan pelarut minyak. Pewarnanya bisa berupa cat atau wantek. Sedangkan pelarutnya bisa berasal dari tinner ataupun bensin. 

Direktur PDAM Tirtawening Kota Bandung Sonny Salimi menjelaskan, pihaknya tidak bisa menguji lebih detail lagi lantaran sampelnya hanya sedikit, sekitar 600 ml. Itupun petugas mendapatkannya dari pelapor yakni Denny Rudiana, tidak langsung diambil sampelnya oleh tim PDAM. 

“Contoh ujinya adalah yang disediakan oleh pelapor sebanyak 600 ml. Jadi kami tidak bisa melakukan pengujian lebih jauh lagi. Seperti apakah zat pewarnanya dari cat atau wantek, pelarutnya tinner atau bensin,” ungkapnya di ruangan rapat pimpinan PDAM Tirtawening Kota Bandung, Jalan Badak Singa Kota Bandung, Selasa 18 Juli 2017. 

Selain menguji sampel air, kata dia, PDAM juga bersama tim teknis kewilayahan termasuk tim Pengamanan Objek Vital Polda Jabar melakukan investigasi. Dari investigasi tersebut didapat di antaranya  lokasi gang Hidayah hanya diairi dari satu sumber air yakni dari Bojongloa, pipanya cuma satu. Keberadaan rumah pelapor ada di gang paling ujung. 

“Elevasi rumah pelapor lebih tinggi dari sumber air. Ada juga pelanggan lain yang mengaku airnya berwarna merah. Total sembilan rumah. Tapi yang punya sampel uji hanya tiga. Itupun yang pekat Cuma satu, sisanya agak pudar warnanya. Rumah masing-masing pelanggan yang melaporkan keluhan tidak berdampingan, menclok-menclok,” terangnya.

Sonny menambahkan, tim investigasi juga melakukan uji kebocoran dengan menutup sebagian aliran air kemudian dialiri air dari tangki. Hasilnya tidak ada kebocoran pipa di sepanjang jalur gang Hidayah. Lagipula pipa PDAM ditanam di kedalaman 40-50 cm di bawah tanah, tidak di saluran drainase. Di sekitar lokasi tidak ada sungai yang mengalir kontinyu. Juga tidak ada aktivitas industri di sana.

“Ada 500an pelanggan di blok Panjunan tersebut. Kalau di gang Hidayah ada 126 pelanggan. Tapi mereka yang mendapati air berwarna merah hanya sembilan orang, itupun menurut pengakuan masing-masing berbeda waktunya satu sama lain, tidak bersamaan waktunya,” beber dia. 

Bantuan Polda

Dari hasil investigasi tersebut, Sonny pun menyimpulkan bahwa kualitas produksi air PDAM 100 persen artinya jernih, aman tidak berwarna merah. Jaringan distribusi tidak bocor, masyarakat umumnya pedagang keliling dan rumahan, tidak ada yang home industri.

“Sebagai langkah tindak lanjut, Kami tidak akan melakukan perbaikan kebocoran. Untuk benar-benar membuktikan ada apa sebenarnya sampai-sampai terjadi air berwarna merah itu, kami akan meminta Reskrim Polda untuk membantu menyelidiki kasusnya,” katanya.

Sonny menyangkal kalau permintaan bantuan polisi itu berbentuk laporan. Menurutnya, pelaporan itu harus jelas siapa yang dilaporkannya. 

“Bukan dalam konteks mempidanakan. Kami hanya ingin memberikan pelajaran agar berhati-hati bicara di media sosial. Sekali lagi kami tidak melaporkan melainkan meminta bantuan Polda Jabar untuk menyelidiki. Karena khawatir ke depan terulang kembali,” timpal Sonny.

Ketikapun hasil penyelidikan polisi nantinya terbukti ada anomali di balik air berwarna merah itu, Sonny meminta si pelapor meminta maaf lewat media sosial. Karena bagaimanapun, kalau terbukti tidak benar air berwarna merah itu bukan dari PDAM, institusinya sudah dirugikan. 

“Saya tidak bisa menyebut itu diduga ada sabotase atau apa. Kita lihat saja hasil penyelidikan polisi nantinya,” pungkasnya.*** 

Baca Juga