#KlipingPR Cangkok Ginjal Pertama di RS Hasan Sadikin

PR Edisi 17 Juli 1987
EDI (34), penderita gagal ginjal terbaring dengan nyaman setelah berhasil menjalani operasi pencangkokan ginjal yang dilakukan tim dokter RSHS/FK Unpad. Di samping kanannya duduk kakaknya, Anton (43) yang menyumbangkan satu ginjalnya dan dicangkokkan ke Edi. Donor ginjal Anton kini sudah sehat, sedangkan penerima ginjal Edi kini masih perlu beristirahat meskipun sudah dinyatakn sehat.*

17 Juli 1987. Pikiran Rakyat halaman 2 edisi itu mencatat sejarah baru bagi Jawa Barat, khsusunya Rumah Sakit Hasan Sadikin. Sebuah terobosan medis telah dilakukan di RS Hasan Sadikin saat itu, yakni operasi pencangkokan atau transplantasi ginjal pertama dan berhasil dilakukan.

Operasi berjalan sehari sebelumnya. Sejumlah wartawan diundang dalam sebuah konferensi pers dan penjelasan disampaikan langsung oleh Direktur RS Hasan Sadikin saat itu, dr Iman Hilman. Hadir dalam konferensi pers itu Ketua Tim Dokter Nefro-Urologi RSHS/FKUP, dr. Enday Sukendar dan Ketua Yayasan Ginjal Jawa Barat Ny Yogie S Memet. Nama yang terakhir disebut adalah istri Gubuernur Jawa Barat saat itu, Yogie S Memet.

Operasi transplantasi ginjal dilakukan terhadap seorang pasien bernama Ade (34). Ia menerima sebuah ginjal dari sang kakak, Anton (43). Anton yang sudah tampak sehat hadir dalam konferensi pers itu, sementara Ade masih harus beristirahat untuk memulihkan luka bekas operasi.

Menurut Iman Hilman, persiapan operasi itu dilakukan sejak setahun sebelumnya. Sementara dokter yang melakukan operasi itu adalah tim dokter RS Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang kebanyakan pernah belajar di Belanda. Para dokter itu adalah Enday Sukendar, Sihombing, Rachmat, Suwandi, Mumu, Bud, Edward Sugita, Sukoco, Agus, dan Marsudi. Operasi dilakukan selama beberapa jam.

"Cara transplantasi ginjal itu diharapkan akan memecahkan masalah di kemudian hari," kata Hilman penuh harapan.

Berapa biaya cangkok ginjal saat itu?

Dibalik keberhasilan itu, timbul pertanyaan dari wartawan yang menghadiri konferensi pers yang digelar RS Hasan Sadikin, berapa biayanya? 

Iman Hilman menjawab lugas: Rp 9 juta. Menurut dia, harga itu relatif rendah dibandingkan penderita harus mencuci darah seumur hidupnya jika tak dilakukan transplantasi ginjal. Untuk membandingkan nilai uang pada tahun 1987 itu, 1 dolar AS setara dengan Rp 1.500, seperti tertera pada tabel valuta asing halaman ekonomi koran yang sama.

Pernyataan direktur RS Hasan Sadikin itu dibenarkan Ketua Tim Dokter Nefro-Urologi RSHS/FKUP, dr. Enday Sukendar. Ia menjelaskan bahwa penderita gagal ginjal harus melakukan cuci darah seumur hidupnya, seminggu dua kali. Biaya sekali cuci darah saat itu adalah minimal Rp 150.000. "Dalam waktu 1 tahun saja, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 16 juta," kata Enday

Pada saat itu, teknologi transplantasi ginjal di Indonesia baru bisa dilakukan di Jakarta, Semarang, selain di Bandung. Data RS Hasan Sadikin, sejak 1984-1985 mereka telah menangani 333 penderita penyakit ginjal. Dari jumlah itu, sebanyak 254 penderita harus menjalani cuci darah. 

Ketua Yayasan Ginjal Jabar Ny Yogie SM mengaku belum bisa berbuat banyak pada pasien yang harus transplantasi ginjal, terutama golongan yang tidak mampu. Namun, kata Hilman, RSHS telah mendapat dukungan penuh dari Menristek BJ Habibie. Menurut Menristek, kata Hilman, ia akan membantu RSHS agar bisa menjadi Pusat Penanganan Penyakit Gagal Ginjal di Jabar.

Di kemudian hari, 30 tahun kemudian, BJ Habibie benar-benar menepati janjinya, meski bukan dikembangkan di RS Hasan Sadikin. Pada November 2016, berdiri Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny RA Habibie di Jalan Tubagus Ismail Kota Bandung. Peresmian gedungnya dilakukan langsung oleh BJ Habibie.***

Baca Juga

Gedung BBWS Citarum Kebakaran

BANDUNG, (PR).- Kebakaran terjadi malam hingga dini hari tadi. Gedung Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum di Jalan Inspeksi Cidurian Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jawa Barat, terbakar sekitar pukul 23.30 WIB, Senin 17 Juli 2017.