Naskah Akademis Kalender Sunda Rampung

Pegiat Kalender Sunda
Pegiat Kalender Sunda/JOKO PAMBUDI/PR
PEGIAT Kalender Sunda berdiskusi di Grand Bidakara Savoy Homann Hotel Bandung, Sabtu, 17 Juni 2017 malam. Pemaknaan mendasar Kalender Sunda terbagi menjadi tiga, yaitu Suryakala Caka Sunda, Chandrakala Caka Sunda, dan Sukrakala Caka Sunda.*

BANDUNG, (PR).- Barangkali banyak yang belum mengetahui jika masyarakat Sunda memiliki kalender khusus sebagai warisan intelektual karuhun. Saat ini, kalender Sunda tengah dalam tahap penyerahan naskah akademis untuk ditetapkan secara resmi lewat aturan tingkat daerah.

"Dengan disahkan, minimal kalender ini tidak menjadi liar. Orang bisa tahu dari mana asal usul dan sebagainya," ujar pegiat Kalender Sunda, Miranda Wihardja, ditemui saat pertemuan di Grand Bidakara Savoy Homann Hotel Bandung, Sabtu, 17 Juni 2017 malam.

Kalender Sunda, kata dia, sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun silam. Namun dalam perjalanannya, kalender tersebut sempat tenggelam, tak banyak digunakan. Sejumlah pegiat kemudian berupaya menghidupkan kembali hingga akhirnya resmi "diluncurkan" pada 2005 silam. Sebagai tindak lanjut, mereka kemudian bersepakat untuk mendorong kalender tersebut dalam regulasi, baik itu peraturan daerah ataupun peraturan gubernur.

Dalam tahapannya, dibentuk tim penyusunan naskah akademis beranggotakan 11 orang, diisi tokoh dengan beragam latar belakang. Selain tokoh budaya sunda, ada tokoh agama, pakar sosiologi, hukum, serta astronomi. Sejak beberapa bulan silam, naskah tersebut disusun hingga rampung dan saat ini tinggal diserahkan.

Jumlah angka sama

Sebagai catatan, dia menambahkan, kalender Sunda yang dimaksud sebenarnya lebih berkaitan dengan cara memaknai. "Jumlah angkanya sama, yang berbeda hanya cara melihat angkanya," ujar Miranda.

Pemaknaan mendasar kalender Sunda itu terbagi tiga, yaitu Suryakala Caka Sunda dengan pemaknaan berbasis matahari, Chandrakala Caka Sunda berbasis bulan, serta Sukrakala Caka Sunda berbasis bintang. Turunan dari pemaknaan tersebut bisa digunakan sehari-hari untuk berbagai kalangan, salah satunya rujukan tatanen (pertanian). 

Pakar Astronomi ITB, Moedji Raharto menilai, kalender Sunda merupakan karya intelektual karuhun dalam menyikapi alam, dalam hal ini Bulan, Bintang, serta Matahari. Pola yang teratur kemudian dirumuskan dengan cara tertentu hingga bisa dimaknai. Oleh karenanya tidak berlebihan jika saat ini menguat dorongan untuk mengesahkan Kalender Sunda dalam tataran peraturan tingkat daerah. 

Anggota DPD RI Eni Sumarni mengemukakan warisan karuhun ini merupakan bukti luhurnya budaya Sunda yang perlu tetap dilestarikan.***

Baca Juga

Warung Kelontong di Ciroyom Jual Obat Keras

BANDUNG, (PR).- Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Bandung menggerebek sebuah warung kelontong di Jalan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jumat 6 Oktober 2017 petang.

Dua Jam, Dedi Mulyadi Diperiksa di Polda Jabar

BANDUNG, (PR).- Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memenuhi panggilan Polda Jawa Barat untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait dugaan Surat Keterangan dukungan kandidat menjelang pemilihan gubernur Jawa Barat, Kamis 19 Okto

Tilang CCTV Diberlakukan Rabu Ini

BANDUNG, (PR).- Terhitung mulai Rabu 4 Oktober 2017, tilang berbasis rekaman kamera pemantau (closed circuit television/CCTV) di Kota Bandung mulai diberlakukan.

Polda Perketat Penggunaan Senjata Api

BANDUNG, (PR).- Polda Jawa Barat memperketat pengawasan penggunaan senjata api yang berada di tangan anggota kepolisian. Pengetesan kondisi psikologis secara bertahap menjadi salah satu caranya.