#KlipingPR Awal Sirnanya Kolam Renang Tjihampelas

Foto Kolam Renang Tjihampelas di halaman depan HU Pikiran Rakyat Edisi 22 Maret 2009/DOK. PR

21 Maret 2009, salah satu bangunan bersejarah di Kota Bandung dibongkar. Pembongkaran dilakukan di sebagian bangunan di kawasan Kolam Renang Tjihampelas. 

Proses pembongkaran itu adalah awal mula hilangnya kolam renang legendaris tersebut. Sepanjang tahun 2009, pro dan kontra terkait nasib Kolam Renang Tjihampelas terus bermunculan dan menjadi isu panas. Sampai akhirnya, objek yang dibicarakan itu kini sirna. Saat ini, lokasi tersebut berdiri apartemen The Jarddin.

Pada 21 Maret 2009, bangunan yang tampak seperti ruang ganti dan ruang penjualan tiket telah rata dengan tanah sementara bagian atap kantin dan tempat beristirahat telah dibongkar. Patung Neptunus yangs edang memegang trisula dan membawa kendi masih terlihat dan air pun masih mengalir keluar dari kendi tersebut. 

Akan tetapi, tiga kolam renang yang ada sudah tidak lagi terisi air. Lumut pun tampak jelas tumbuh di dasar kolam. Sejak kolam renang ditutup, warga sekitar tidak lagi bisa memanfaatkan air buangan dari kolam. Sebelumnya, warga biasa mandi dan mencuci memakai air dari kolam.

Penulis buku Braga; Jantung Parijs van Java, Ridwan Hutagalung dalam wawancara yang dimuat HU Pikiran Rakyat tahun 2009 menjelaskan, pada awalnya, Kolam Renang Tjihampelas hanya kolam tanpa bangunan. Kemudian sekitar tahun 1920, baru dibangun gedung sarana pendukung di sekitarnya.

Kolam Renang Tjihampelas merupakan kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang tersebut milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann. Kolam renang itu dibnagun secara sederhana tahun 1904.***

Baca Juga

#KlipingPR Pikiran Rakyat Lebih Ramping dan Lebih Tebal

24 Maret 2009 adalah hari pertama Pikiran Rakyat terbit dengan format baru. Selain perubahan format, pada edisi tersebut, Pikiran Rakyat hadir dengan jumlah halaman yang lebih banyak yaitu 32 halaman.