Bangunan Liar di Lembang Bakal Digusur

Bangunan Liar di Lembang/HENDRO SUSILO/PR
SEORANG warga berjalan di depan bangunan liar di bahu Jalan Tangkubanperahu, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 17 Februari 2017. Pekan depan bangunan liar tersebut akan dibongkar Satpol PP dan Damkar KBB jika pemiliknya tidak melakukan pembongkaran secara sukarela.*

NGAMPRAH, (PR).- Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung Barat akan membongkar secara paksa 16 bangunan liar di Lembang dan 24 bangunan liar di Padalarang pada pekan depan, jika para pemilik bangunan liar tidak melakukan pembongkaran sendiri.

"Selasa 21 Februari 2017, kami rencanakan bangunan liar di Lembang dibongkar, jika imbauan kami untuk dibongkar secara sukarela tidak diindahkan. Demikian pula dengan bangunan liar di Padalarang, yang sudah kami agendakan pada Kamis, 23 Februari 2017," kata Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Masyarakat Satpol PP dan Damkar Kabupaten Bandung Barat Agus Mulya di kantornya, Ngamprah, Jumat 17 Februari 2017.

Dia menyebutkan, sebanyak 16 bangunan liar di Lembang yang akan dibongkar berada di bahu Jalan Tangkubanperahu, tepatnya di Kampung Legok, RT 1 RW 9, Desa Jayagiri. "Ke-12 bangunan itu sebagian besar semipermanen, tapi ada juga yang permanen. Kebanyakan kios-kios warung," katanya.

Sementara bangunan liar di Padalarang, terangnya, berada di sempadan dan palung Sungai Cijaringao, yakni di RW 13 dan RW 14 Kampung/Desa Kertajaya. "Di situ juga kios-kios warung. Dari 24 bangunan liar yang mau dibongkar, sebanyak 6 bangunan liar sudah dibongkar sendiri oleh pemiliknya, setelah kami melakukan pendekatan," tuturnya.

Menurut dia, keberadaan bangunan liar di Lembang dan Padalarang itu telah menyalahi Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2013 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3), karena didirikan pada tempat yang bukan semestinya.

"Kami sudah melaksanakan serangkaian prosedur untuk menertibkannya, dari mulai sosialisasi, pemberian surat imbauan, dan tiga kali surat peringatan. Negosiasi dan mediasi dengan pihak-pihak terkait juga sudah kami tempuh, kemudian sudah ada surat pernyataan kesediaan membongkar secara sukarela," katanya. 

Agus berharap, para pemilik bangunan liar bersedia membongkar sendiri bangunannya, sehingga bisa dimanfaatkan kembali. "Namun, kalau sampai batas waktu yang sudah ditentukan belum juga dibongkar, maka kami yang akan membongkarnya," tuturnya.

Sementara itu, seorang pemilik bangunan liar di pinggir Jalan Tangkubanperahu, Andri (28) mengakui bahwa warung yang dia dirikan tidak memiliki izin. Meski begitu, dia masih belum melakukan pembongkaran karena berharap masih bisa mencari rezeki dengan berjualan kelapa muda.

"Masih ada beberapa hari lagi, karena akhir pekan itu biasanya lebih ramai. Lumayan bisa buat tambahan uang dana pangkal buat menyewa kios di tempat lain," kata bapak dari seorang anak itu.

Walaupun menyadari kesalahannya, dia berharap penegakan aturan bisa diterapkan tanpa tebang pilih, termasuk sejumlah pengusaha minimarket yang disinyalir tidak berizin. "Saya juga sudah cek ke kios-kios di Cikole dan Cikidang, enggak ada yang mau dibongkar padahal enggak ada izinnya juga. Yang jadi pertanyaan, kenapa cuma di sini yang dibongkar," tuturnya.***

Baca Juga

Dijanjikan Jadi CPNS, Lapor ke Inspektorat

NGAMPRAH, (PR).- Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat diimbau waspada terhadap praktik percaloan dalam perekrutan calon Pegawai Negeri Sipil. Jika ada yang menawarkan jasa ilegal tersebut, warga diminta segera melaporkannya ke Inspektorat Daerah.

Aa Umbara Siap Melaju di Pilbup Bandung Barat 2018

NGAMPRAH, (PR).- Politisi PDI Perjuangan Kabupaten Bandung Barat Aa Umbara Sutisna menyatakan kesiapannya untuk menjadi bakal calon Bupati Kabupaten Bandung Barat periode 2018-2023.

Krisis Air Bersih di Timur Bandung

Pipa Terbagi, Warga Kertawangi Krisis Air Bersih

NGAMPRAH, (PR).- Sejumlah warga Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengeluhkan minimnya pasokan air di daerah mereka. Hal itu diduga akibat adanya oknum yang menggunakan pipa air dari sumber air di Cijangel di luar kebutuhan rumah tangga.