Alun-alun Bandung Banyak Alami Pergeseran Makna

WARGA berekreasi di Alun-Alun Bandung, mulai dari jalan santai, bermain bola, hingga berfoto.*
Alun-Alun Bandung/HARRY SURJANA/PR
WARGA berekreasi di Alun-Alun Bandung, mulai dari jalan santai, bermain bola, hingga berfoto.*

BANDUNG, (PR).- Dalam beberapa tahun terakhir, alun-alun bandung banyak mengalami perubahan, dan juga pergeseran makna.  

Menurut Anggota Tim Cagar Budaya David Bambang Soediono, terjadi perubahan skala yang cukup besar dari alun-alun lama ke alun-alun yang sekarang. "Apalagi ketika nanti ada gedung besar yang akan lebih menjepit lapangan yang menjadi pusat kota Bandung" kata David dalam Forum Diskusi Pelestarian Kawasan Alun-Alun Bandung yang digelr Bandung Heritage di Galeri Soemardja FSRD ITB pada Rabu, 11 Januari 2017.

Forum diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, dan membahas tentang kekhawatiran warga Bandung akan pelestarian cagar Budaya yang ada di daerah Alun-Alun.

David menjelaskan bangunan yang dikategorikan sebagai cagar budaya memiliki dua ciri. Pertama, umurnya sudah 50 tahun. Kedua, bangunan tersebut memiliki nilai penting baik dari segi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, ataupun kebudayan. Hal tersebut diatur dalam UU no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya dalam konteks pembangunan kota.

Dia mencontoh perubahan yang Bandung Heritage rasakan selama 30 tahun belakangan ini adalah penghancuran situs Penjara Banceuy menjadi deretan bangunan ruko, penghancuran gedung-gedung bioskop lama menjadi Palaguna Nusantara yang saat ini sudah dihancurkan kembali. 

Kemudian pembangunan gedung pencakar langit di seberang depan Pendopo, perubahan fisik dan skala bangunan Mesjid Agung, hingga metamorfosis Alun-alun menjadi halaman Mesjid Agung.

Pergeseran makna alun-alun Bandung ternyata tidak hanya dirasakan oleh Bandung Heritage. Warga sekitar alun-alun juga merasakan perubahan ini. Salah satunya adalah Derry Purnama Suryapranata, warga kecamatan Regol yang mengeluhkan penggunaan rumput sintetis.

Diharapkan adanya penyelarasan, kesepakatan dan kesadaran bersama antara pemerintah, pengembang, para stakeholder, dan warga untuk mendudukan kawasan Alun-alun sebagai kawasan cagar budaya yang perlu dilestarikan.

"Kalau menurut saya mah mending rumput sintetisnya cabut lagi aja. Karena anak saya pernah main disitu dan lupa cuci tangan. Besoknya sakit" ujar Derry dalam sesi tanya jawab. 

Diskusi tersebut juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid. Ia mengatakan, diskusi tentang cagar budaya itu jangan hanya berhenti di perlindungan, tapi pengembangan dan pemanfaatannya juga harus disiapkan.

"Karena pengembang itu punya visi dan kekuatan yang cukup besar. Maka kita harus pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan penyelamatan ini" kata Hilmar. (Surya Fikri Asshidiq)***

Baca Juga

Penyebaran Guru di KBB Belum Merata

NGAMPRAH, (PR).- Walaupun kualitas guru di Kabupaten Bandung Barat relatif lebih baik dibandingkan kualitas guru di tingkat provinsi dan nasional, penyebaran guru di wilayah perkotaan dan perdesaan KBB masih belum merata.

Pendidikan Politik untuk Pemilih Pemula

CIMAHI, (PR).- Tingkatkan pengetahuan soal Pilkada Kota Cimahi, Perhimpunan Mahasiswa (Prisma) Kota Cimahi menggelar diskusi panel "Diskusi Muda-Peran Pemuda Pelahar dan Mahasiswa Mengawal Proses Demokrasi di Kota Cimahi".