800 Penyapu Jalan Digaji di Bawah UMK

Petugas Kebersihan/ARIF HIDAYAH/PR
PETUGAS kebersihan memilah sampah di tempat pembuangan sampah di Jalan Pangaritan, Kota Bandung, Rabu 11 Januari 2017. Untuk meningkatkan pendapatan, PD Kebersihan tahun 2017 ini memprioritaskan pengembangan layanan komersial. Masih banyak pusat perbelanjaan yang belum menyerahkan pembuangan sampah mereka ke PD Kebersihan.*

BANDUNG, (PR).- Di tengah kegamangan skema penyerahan dana operasional PD Kebersihan Kota Bandung, ada permasalahan klasik terkait kesejahteraan pegawai. Sekitar 800 petugas penyapu jalan digaji di bawah upah minimum kota (UMK) selama bertahun-tahun.

Koswara (43), sudah bekerja sebagai penyapu jalan salama 25 tahun. Hari ini bapak tiga anak itu menerima bayaran kotor Rp 2,1 juta per bulan. Jauh di bawah UMK Kota Bandung 2017 sebesar Rp 2,8 juta. Besaran itu belum dikurangi beberapa potongan yang harus ia bayar, di antaranya iuran koperasi.

"Kalau dibilang cukup, ya sebenarnya tidak cukup. Kalau dibilang tidak cukup, nyatanya ya bisa dicukup-cukupkan," kata Koswara ketika sedang mengumpulkan sampah di kawasan Braga, Rabu 11 Januari 2017. 

Gunan (40), rekan kerja Koswara, sudah 20 tahun bekerja untuk PD Kebersihan. Gajinya masih di kisaran Rp 2 juta. Meski pendapatannya di bawah UMK, Gunan memilih bertahan. "Mencari pekerjaan sekarang kan susah. Yang ada saja yang saya jalani baik-baik," katanya.

Gunan mengaku mendapatkan informasi, meski tidak mendetail, perihal perubahan pengelolaan dana operasional kebersihan. Yang ia harapkan hanya satu: gaji yang masih di bawah UMK itu tetap akan diperolehnya.

Selain Koswara dan Gunan, masih ada sekitar 800 petugas penyapu jalan lainnya yang masih digaji di bawah UMK. Tidak sedikit dari mereka yang sudah bekerja lebih lama dari keduanya. Sebagian merupakan pegawai PD Kebersihan, yang lain merupakan tenaga lepas kontrak.

Direktur Umum PD Kebersihan Gun Gun Saptari Hidayat mengakui belum idealnya kesejahteraan karyawan. Namun ia juga memastikan bahwa manajemen terus mengupayakan langkah-langkah perbaikan. Salah satu jalan keluar adalah menggenjot pendapatan perusahaan. "Kami terus mengupayakan kenaikan gaji karyawan secara bertahap. Tentu semua harus dikalkulasikan sesuai kemampuan kami. Salah satu langkah strategis adalah mengoptimalkan potensi layanan komersial," tutur Gun Gun.

Tahun 2016 lalu, total pendapatan PD Kebersihan mencapai Rp 30 miliar, atau naik sekitar 22 persen dari pendapatan tahun 2015 sebesar Rp 24 miliar. Mayoritas pendapatan datang dari wajib retribusi komersial, seperti hotel dan pusat perbelanjaan. Dari retribusi rumah tangga, PD Kebersihan hanya mendapatkan Rp 9 miliar dari potensi maksimal Rp 30 miliar.

Tambahan pendapatan selama ini diperoleh dari dana subsidi yang dialokasikan langsung dalam APBD setiap tahunnya. Besaran terakhir sekitar Rp 100 miliar. Dana subsidi inilah yang mulai tahun anggaran 2017 ini dialihkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan.

Kepala Bagian Perekonomian Kota Bandung Lusi Lesminingwati menyatakan, selain mengejar potensi pasar komerisal, PD Kebersihan juga didorong untuk mengoptimalkan aset perusahaan. “PD Kebersihan memiliki 44 titik aset yang bisa dioptimalkan,” katanya.

Peningkatan pendapatan perusahaan merupakan salah satu kunci perbaikan kesejahteraan karyawan. Koswara dan Gunan sudah puluhan tahun menunggu. Entah berapa lama lagi mereka masih harus menunggu.***

Baca Juga

Rp 137 Miliar untuk Pengelolaan Sampah Kota Bandung

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Kota Bandung memastikan menganggarkan dana tambahan Rp 12 miliar dalam APBD 2017 ini. Dana tambahan ini muncul akibat kenaikan tipping fee TPA Sarimukti dari Rp 29.000 per ton menjadi Rp 50.000 per ton.

Pembangunan PLTSa Seharusnya Status Quo

BANDUNG, (PR).- Semua proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di tujuh kota di Indonesia, termasuk Kota Bandung, seharusnya status quo.

Reklame Rokok Ilegal Mengepung Bandung

SUDAH lebih dari dua tahun papan reklame berisi merek rokok terkenal bikinan Amerika Serikat itu berdiri menjulang di pinggiran perempatan Jalan Martanegara dan Jalan Pelajar Pejuang 45 , Kota Bandung.