Waspadai 5 Hal Sebelum Bangun Teknopolis di Gedebage

DEDEN IMAN/PRLM
PETA Gedebage Kota Bandung yang akan dijadikan kawasan teknopolis dalam Diskusi Forum Asia Afrika di Kantor Pikiran Rakyat, Kota Bandung, Selasa (23/2/2016).*
BANDUNG, (PRLM).- Daya dukung alam Gedebage yang tebatas harus menjadi pertimbangan Pemkot Bandung sebelum merealisasikan teknopolis di Gedebage.
 
Taufan Suranto dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) menjelaskan, ada lima hal yang harus diwaspadai  terkait pembangunan teknopolis ini.
 
Pertama, Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kawasan Gedebage, merupakan kawasan terbuka hijau yang tersisa di Kota Bandung. Jika Gedebage diubah menjadi kawasan dengan gedung-gedung tinggi, maka jumlah ruang terbuka hijau yang dimiliki Kota Bandung semakin berkurang.
 
"Dulu RTH itu ya hanya di Gedebage. Kalau ini dibangun ya pasti kurang," kata Taufan saat berbicara di Forum Asia Afrika yang diselenggarakan di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77 Kota Bandung yang membahas tentang rencana Pemkot Bandung membangun teknopolis, Selasa (23/2/2016).
 
Kedua, banjir. Kawasan Gedebage merupakan daerah terendah di cekungan Bandung, sehingga potensi banjir sangat besar.
 
Ketiga, kawasan Gedebage mempunyai potensi angin puting beliung yang besar. Angin berhembus dari daerah tinggi ke rendah. Gedebage sebagai daerah yang rendah rentan mengalami puting beliung. Gedebage masuk dalam jalur angin yang berhembus dari utara menuju selatan melewati lorong Gunung Manglayang.
 
Keempat, Gedebage juga memiliki potensi tanah ambles yang tinggi. Hal ini terkait terjadinya pengambilan air tanah yang berlebihan. Belum lagi memperhitungkan potensi gempa, mengingat tanah yang labil.
 
Kelima, pembangunan teknopolis di Gedebage berpotensi mengurangi daerah tangkapan air. Gedebange merupakan daerah tangkapan air di Kota Bandung. Itu pula yang membuat ekosistem yang terbentuk di Gedebage berupa lahan basah. "Di situ ada burung air, blekok. Upaya penyelamatan blekok bukan hanya soal menyelamatkan hewan tetapi juga menjaga kearifan lokal warga setempat tang bertahun-tahun menjaga ekosistem itu," tutur Taufan.
 
Ia mengingatkan, pembangunan teknopolis ini harus mengajak bicara daerah-daerah di sekitarnya. Sebab Bandung selama ini sangat tergantung dengan daya dukung lingkungan daerah-daerah di sekitarnya. "Tidak bisa Bandung main sendiri. Ada provinsi, kementarian, BBWS. Ga bisa Bandung sendiri, harus dengan lainnya.
Percuma bangun apapun kalau KBU nya rusak," katanya. (Catur Ratna Wulandari)***

Baca Juga

Apa Itu Bandung Metro Kapsul?

BANDUNG, (PR).- Prototipe LRT "Bandung Metro Kapsul" sudah dipajang di Alun-alun Kota Bandung, Rabu, 5 April 2017. Alat transportasi massal modern ini rencananya akan mulai dibangun pada Mei 2017 mendatang. 

Waspada, Kini Narkoba Beredar dalam Bentuk Tisu Basah

BANDUNG, (PR).- Sedikitnya ada 800 jenis narkoba baru yang kini beredar di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 60 jenis narkoba yang sudah melalui uji laboratorium dan peredarannya diatur oleh Undang-Undang. 

#KlipingPR Blue Bird Hanya Dibatasi 100 Unit

13 April 2006. Ratusan pengemudi taksi di Bandung yang menamakan dirinya Gerakan Solidaritas Pengemudi di Indonesia (GSPI) berunjuk rasa memprotes beroperasinya taksi Blue Bird di Bandung.